Dapat dikatakan istilah perbedaan sudah disadari keberadaannya dari awal manusia menjajaki kakinya di bumi ini. Meskipun itu tidak dikenal sebagai sebuah kata, namun pemaknaannya tetap berada dalam posisi yang sama sekalipun dalam pola pikir yang berbeda. Beranjak dari hal yang termudah untuk dimengerti yang sifatnya materil, konkret, dan kasat mata, hingga pada hal yang memiliki keabstrakan yang cenderung berkaitan dengan pemikiran dan perasaan. Semua hal yang memiliki makna "berbeda" dapat dipersepsikan.
Kesadaran akan kesamaan persepsi itu sayangnya kurang begitu disadari. Pemaknaannya sering terbentur oleh cara menyikapinya. Semua orang dapat dianggap tahu akan keberadaan sebuah atau sebanyak perbedaan yang ada, namun dalam hal menyikapi perbedaan cenderung membawa permasalahan.
Meninjau dari sejarah, seperti halnya komunitas masyarakat yang berada dalam kelompok Yesus dan Muhammad, menyadari adanya manusia pertama yang bernama Adam. Ia diciptakan sebagai sosok yang dipahami berjenis kelamin laki-laki. Kemudian dari secuil bagian tubuhnya diciptakan Hawa (Eve), yang dapat dipahami berjenis kelamin perempuan. Dari penciptaan Hawa (Eve), Adam menyadari adanya perbedaan diantara mereka yang sama-sama menyadari dirinya sebagai manusia. Perbedaan itu terus berlangsung dengan baik hingga terlahir anak-anak Adam, yang seiring pertumbuhan kedewasaannya, Tuhan memberikan perintah dengan menentukan pasangan-pasangan dari anak Adam untuk melakukan perkembangbiakan. Dari pemasangan tersebut, sangat disadari oleh semua anak Adam bahwa Tuhan memasangkan mereka dengan cukup memberikan kelapangan pada perbedaan setiap pasangannya. Mudahnya mereka memahami diantara mereka yang merasa memiliki penampilan fisik yang kurang baik dipasangkan dengan anak Adam yang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik.
Diantara anak Adam tersebut, ada yang tidak menerimanya. Ia yang terlahir dengan keunggulan penampilan fisik, merasa harus dipasangkan dengan yang memiliki penampilan fisik yang baik pula. Dapat dilihat bagaimana salah satu anak Adam itu menyikapi perbedaan, ia tidak mau menerima pembedaan yang telah coba ditentukan. Hingga sampailah pada tindakan penghilangan nyawa yang pertama dimuka bumi ini.
Kejadian nyata adanya penyikapan perbedaan yang berujung pada perpecahan ada pada sejarah terbentuknya negara Pakistan. Sebagaimana dapat dilihat pada literatur sejarah, Pakistan memisahkan diri dari kesatuan Hindustan, dikarenakan masalah perbedaan keyakinan. Kehidupan Hindu yang kental pada mayoritas masyarakat Hindustan, tidak bisa dipersatukan dengan keIslaman masayarakat lainnya yang juga hidup di wilayah tersebut. Sapi yang disembelih masyarakat Islam dianggap menghina masyarakat Hindu yang mendewakan Sapi. Perbedaan ini yang kemudian memutuskan hubungan masyarakat Islam yang membentuk negara Pakistan.
Seorang Galileo yang di Hukum oleh Gereja karena memberikan pernyataan yang berbeda dari pernyataan gereja tentang tata surya, Nelson Mandela yang dipenjara karena memperjuangkan hak msayarakat kulit hitam di Afrika Selatan, KuKlux Klan yang membantai setiap bangsa selain kaukasoid, dan Tragedi Lombok, mencirikan adanya sebuah penyikapan atas perbedaan yang membawa dampak yang kurang baik.
Setiap langkah sejarah ini sesungguhnya sudah cukup membuktikan bahwa akan selalu ada usaha untuk merubah cara penyikapan terhadap perbedaan yang berdampak buruk tersebut. Cerita kemenangan dari perjuangan-perjuangan itu setidaknya mampu untuk dapat dipelajari. Pernyataan Galileo telah dibuktikan kebenarannya bertahun-tahun setelah kematiannya. Masyarakat kulit hitam yang telah diangkat statusnya pun telah nyata mampu menjadi penghibur dunia ini melalui musiknya. Bahkan di India pun akan tetap ada masyarakat Islam.
Perbedaan akan selalu disadari keberadaannya disetiap mata ini memandang. Bahkan yang dinamakan kembar mutlak pun tak ada. Sidik jaripun tak ada yang sama. Jika perbedaan sekecil itu bisa disikapi dengan lebih baik, lalu kenapa tidak untuk terus menambah kedewasaan kebijaksanaan kita dalam memberikan sikap yang lebih dewasa terhadap perbedaan yang lebih besar??. Mungkin saja memang diantara kita ada yang tidak belajar dari perbedaan yang terkecil, namun langsung ingin beranjak pada diskusi perbedaan terbesar dan bersifat abstrak. Tentu saja mereka yang seperti itu bukanlah orang yang bodoh, mereka hanya menjadi orang yang lupa. Akuilah bahwa kita adalah makhluk pelupa. Untuk itu seorang Muhammad, Yesus, Buddha, Konfusius, dan para tokoh besar Pejuang Dunia ini datang sebagai pembawa per'ingat'an, bukan penghukum, bukan pendoktrin. Usaha mereka berhasil bukan dengan menghakimi, mereka berhasil karena berhasil mengingatkan banyak orang. Jika kita meyakini ajaran mereka, tentunya yang bijak dilakukan adalah mengingatkan mereka yang lupa, termasuk kita.
Perbedaan bukanlah musuh, perbedaan bukanlah kendala, perbedaan bukanlah hambatan. Percuma berusaha untuk menghilangkannya, karena perbedaan itu "ADA", dan perbedaan itu adalah "KITA"
No comments:
Post a Comment