Pada hari ini, seperti biasanya semenjak 2 dekade lalu, sudah menjadi kebiasaanku untuk menyediakan dua kali 60 menit dari hari ini untuk minta didengarkan oleh Ia yang hingga saat ini masih kusebut sebagai TUHAN...... Ia yang dibalik ketidaktahuanku akan pendengarannya telah menjadi pendengar setiaku....tak ada sanggahan, tak ada interupsi, bahkan tak ada perdebatan yang pernah terjadi, sungguh kuanggap Ia sebagai yang selalu menghargai suaraku...dan yang paling tertarik dariNya adalah Ia selalu memberikan jawaban bukan lewat suaranya, tapi melalui hatiku, yang tak pernah sampai logikaku untuk bahkan memberanikan diriku mencari tahu bagaimana bisa sampaii kesitu.....Sampailah ku pada sebuah bangunan tua yang terlihat kokoh...bangunan yang kurasa mampu membuat nyaman siapapun hanya dengan merasakan aliran kesejukkan yang dihembuskan melalui setiap bidang ruang keterbukaan pada jendela dan pintu yang terbuka lebar, yang seakan-akan menjadi perlambang Ia yang senantiasa menjadikan dirinya terbuka bagi siapa saja yang ingin datang kepadaNya......Pillar-Pillar beton penyangga bangunan ini sungguh terasa sebagai penyangga Iman yang dibangun olehNya dalam setiap hati yang mau memelihara keutuhan bangunan kerajaanNya... Tapi tetap saja, sebagai bangunan yang sudah hampir 5 abad berdiri ini, ia tak pernah berhenti menghembuskan aroma keangkeran yang kurasakan sebagai kemisteriusan Ia yang tak masuk akal.
Dua buah pintu kayu jati, yang kekokohannya menunjukkan kalau ia terbangun dari kayu jati yang telah berumur lebih dari 80 tahun, mereka terbelah dua ke arah dalam bangunan seperti dua penjaga dengan kedua tangannya yang mempersilahkan ku masuk dengan segala keramahan, tapi juga dingin tanpa ekspresi. di dalam tak banyak kulihat orang yang berkomunikasi denganMu hari ini...hanya kulihat dua orang laki-laki yang masing-masing duduk di sudut ruangan di depan altarMu dengan duduk bersila sambil menundukkan kepala dengan bibir bergerak tanpa terdengarsuara bahkan bisikkan sekalipun. Ku dudukkan badanku tepat berada di tengah-tengah rumahMu, yang memang selama ini telah menjadi tempat favoritku dan tanpa pernah ku reserve selalu ku diberi kesempatan untuk bisa terduduk di tepat dibawah lampu kristal dengan rantai baja teruntai dan mengait pada atap beton dengan lukisan keagunganMu, yang kurasa pelukisnya sangat mengagungkanMu, sangat terasa dalam lukisannya, dan itu pesan yang tersampaikan padaku.
Mimbar tempat utusanmu menyampaikan ajaranmu begitu bercahaya oleh mataharimu yang sangat jernih terpancar dari pintu dan jendela, yang entah bisa kusebut keajaiban atau memang sebuah proses alam, yang sebenarnya keduanya datang dariMu, karena cahaya itu tepat tertuju kepada sudut bangunan yang meneluk dengan latar sebuah karya seni yang berkilauan yang lagi-lagi menunjukkan keagunganMu, sinar mataharimu semakin memperkuat esensi karya seni itu...Sejenak cahaya itu terhalang sesuatu yang berdiri tegak di depan pintu masuk, kutahu itu dari bayangan hitam panjang yang ikut sedikit menutupiku hingga mimbar Khotbah. Kulihat bayangan itu bergerak ke arah kanan, kucoba kuikuti rasa penasaranku, kutengokkan 80derajat wajahku, kutambahkan 75 derajat lagi mataku.....tak begitu jelas, tapi dari ujung mata tampak siluet hitam yang kuyakin itu seorang wanita dengan kerudung.....Kucoba untuk tidak tergoda, karena memang biasanya mataku benar-benar terfokus pada setiap karya yang dibuat oleh salah satu ciptaanMu yang agung...tapi tidak pada ciptaanMu, itu biasa kulakukan setelah selesai ku berimajinasi bersamaMu. Tapi kali ini sedikit berbeda, godaan itu begitu besar, konsentrasiku buyar, imajinasiku terlepas, gambaran diriMu perlahan hilang, prediksi akan wujud wanitaMu di ujung sana yang terus menguat.
Tak kuasa, apa daya jika bahkan kekuatan ini mampu mengalihkan kekuatanku pada Mu, ku relakan sejenak hati dan pikiranku untuk mengalah...dengan sengaja ku arahkan konsentrasiku untuk menterjemahkan sosok wanita di ujung sana....wanita itu terduduk di bawah bayangan yang terus menggelapi segala sisi tubuhnya, wajahnya semakin hilang ditelan kegelapan bayang-bayang kerudungnya...misteri ini memicu adrenalinku, degupan jantungku menguat karena rasa penasaranku, entah apa yang membuat wanita ini begitu menggugah hasratku, pesona akan kemisteriannya mengalihkanku dari Ia yang paling mempesonaku....
Rasanya pikiran dengan setiap otot dan syarafku tak mau berkompromi, refleks gerak badanku serasa mendahului perintah otakku, tak kuasa diriku menahan untuk berdiri dan menghampirinya, hatiku tak kuasa menahan pesonanya..mataku tak bisa lepas memandangnya...perlahan kusadari bahwa dirinya menyadari keberadaanku, semakin kudekati, semakin Ia menaruh wajahnya dalam balutan hitam gelap kerudung hitamnya...angin menghantar suara senggukan menahan tangis yang semakin jelas kudengar. Hanya tinggal dua langkah lagi dapat kuraih dia, tapi ada kekuatan yang entah datang darimana yang sepertinya menahanku untuk sampai padanya, maka kuputuskan untuk tidak melanjutkan langkahku, kududuk bersila tepat dua langkah di depannya. Tetap tak bisa kulihat wajahnya. Yang kulihat hanya telapak tangannya yang saling bertemu di ujung lututnya yang terlipat dengan dua kakinya tertindih mengarah ke arah yang sama. Seperti kedua tangan yang ingin menggenggam satu sama lain namun tak bertenaga. Kusadari, dibalik sosoknya yang seakan diselimuti bayang-bayang, kulihat dua buah telapak tangan yang putih bersih, kulit yang masih kencang, kuku-kuku yang terpotong rapih sejajar dengan ujung jari, polos tanpa ada hiasan cincin atau apapun. Jemarinya terlihat lentik dengan susunan jari-jari yang elok dan penuh dengan sentuhan kelembutan, sungguh menggoda untuk menggenggamnya.
Situasi ini sungguh merupakan situasi yang canggung untuk dilakukan pada hari-hari yang normal oleh orang-orang normal dalam situasi yang normal. Seorang pria tak dikenal menghampiri tanpa sebab yang jelas dan duduk tepat berhadapan dengan wanita yang tak dikenalnya juga. Pikiranku sekarang seperti puting beliung yang semakin cepat berputar dan memporakporandakan akal sehatku, tak jelas apa bisa logikaku pikirkan saat ini, ini di luar logikaku, tak sedikitpun kurasakan penolakan darinya, tak ada kurasakan perasaan takutnya kepadaku.
Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada kata yang mampu kuucapkan, bahkan hampir tak sedikitpun oksigen yang kuhirup. Kuyakin ini nyata, tapi tak bisa kucubit pipiku untuk meyakinkannya. Situasi yang sama sekali tak pernah kualami. Tak ada penjelasan yang masuk akal bagiku. Ku bukan dari golongan mereka yang bernafsu untuk meperkasih wanita, ku bukan dari golongan mereka yang ingin menikmati seks setiap saat, ku patuh pada Tuhanku, kuhargai nasihat kedua orangtuaku, dan ku tak mau jatuh karena wanita. Bahkan tak bisa sedikitpun wajahmu kulihat, samar bisa kulihat bentuk badanmu, tak kulihat kecantikanmu, tak bisa kusimpulkan keseksianmu, jadi tak mungkin kutertarik padamu, kau hanya kuanggap misteri, tapi juga kenapa penasaran ini membawaku kepadamu, tak pernah ku tergoda oleh misteri kecuali misteri Tuhanku.
Mendadak putingbeliung pikiranku mereda perlahan seiring redupan isakan tangisnya dan tengadahan wajahnya yang perlahan. Degupan jantungku pun mereda, yang merupakan hal aneh dimana senormalnya justru jantung ini berdegup semakin kencang karena akan ada peristiwa yang menjadi jawaban sedikit penasaranku. Ketenangan mulai terasa disekitarnya, tirai bayangan sedikit-demi sedikit terbuka, cahaya mulai menyinari tubuhnya, pakaiannya yang serba hitam seakan memutih oleh sinar surya. Seketika saat wajahnya sudah mulai memenuhi pandanganku, penglihatanku tersilaukan oleh cahaya kehidupan bumi ini yang melesat langsung ke arahku, seketika kualihkan pandanganku darinya untuk menghindari dampak UV light kepada indera penglihatanku. Seketika setelahnya, kusadari ia tak lagi dihadapanku....kemana dia...kutatapi setiap jengkal sudut ruangan tempat kuberada, kuputar badanku hingga 360 derajat, tak kutemukan....secepat itu dia menghilang, atau selama itukah aku memalingkan pandangan??...Kucoba cari keluar...dengan berlari kecil kupastikan untuk melangkah keluar...dengan hamparan cahaya matahari menyambutku diluar, perlahan sinar itu meredup, disaat itu dapat jelas kulihat dirinya berdiri arah jam dua di depanku, kulihat jelas dan terang matanya yang agak besar membulat dengan kelopak yang tersisa pada bagian atas matanya, dengan sedikit ada lekukan yang agak dalam, bola mata berwarna coklat yang jelas terpancar memantulkan sinar matahari, alisnya yang naik sedikit tajam namun tetap menandakan kesenduan, wajahnya agak ouval dengan bagian dagu yang menajam, hidung mancung dengan ujung yang maju menajam, tapi tidak runcing bagian pinggirnya berbayang seperti bershading menajamkan keelokkan kesempurnaannya, bibirnya memiliki bentuk yang tegas, tidak tipis, tapi juga tidak tebal, bagian atas yang sedikit lebih maju dibandingkan yang bawah menambah keseksian sebuah bibir, berbalut kemerahan alami. Kulitnya putih kencang dengan bagian pipi dan dahi bagaikan kehalusan kulit bayi tanpa cacat, sedikit nampak keluar dari balik kerudungnya, kecoklatan rambut yang sepertinya ikal.
Kekakuan meramabhiku sampai kujung jari kakiku seiring mata sendunya yang menatap tajam mataku. Kebekuan itu luntur dengan dilemparkannya senyum kecil yang semakin menegaskan binaran matanya. Perlahan dia menghampiriku, seakan mendahuluiku yang karena tahu aku ingin menghampirinya. Tepat dia berdiri dihadapanku, tingginya tepat sampai pada ujung hidungku, bibirnya mulai bergerak menandakan adanya suara dan kata-kata yang akan terlontar...dengan keras kupikirkan, kuramalkan apa yang akan dia katakan, suara seperti apa yang akan kudengar...."hai" diikuti dengan senyuman yang tidak kalah anggunnya dengan yang sebelumnya....dalam hatiku kubertanya hanya itukah yang ingin dia katakan....wajahnya merubah dengan sedikit kerutan diantara alisnya, wajahnya menyerong 3 derajat kekiri, menandakan seperti rasa penasaran yang berbalik kepadaku. Sambil melempar senyum untuk yang ketiga kalinya, dia langkahkan kakinya menjauhiku, terus dia berjalan semakin jauh hingga sampai pada meter ke 7 dia lontarkan lagi senyuman keempatnya, tanpa kurencanakan, tanpa kuinginkan, kuberucap menyebut keagungan Tuhan, disaat itulah kusadari, sejenak Ia menjadi pengalih fokusku kepada Tuhanku, kusadari tapi tak kurasa ada dosa,.....sebuah pesona pengalih yang dulu kuanggap sebagai pesona jahat yang bisa mengalihkan siapa saja dari Tuhannya, tapi sepertinya tidak kali ini, kuucap keagungan Tuhan setelah bertemu dengannya..kuanggap sebagai anugerah, kuanggap Tuhanlah yang merencanakan ini......dengan senyum yang tertahan bagaikan kambing yang diikat lehernya dari kebebasan, kukembali kepada khayalan diskusiku dengan Tuhan....
Tak kuasa, apa daya jika bahkan kekuatan ini mampu mengalihkan kekuatanku pada Mu, ku relakan sejenak hati dan pikiranku untuk mengalah...dengan sengaja ku arahkan konsentrasiku untuk menterjemahkan sosok wanita di ujung sana....wanita itu terduduk di bawah bayangan yang terus menggelapi segala sisi tubuhnya, wajahnya semakin hilang ditelan kegelapan bayang-bayang kerudungnya...misteri ini memicu adrenalinku, degupan jantungku menguat karena rasa penasaranku, entah apa yang membuat wanita ini begitu menggugah hasratku, pesona akan kemisteriannya mengalihkanku dari Ia yang paling mempesonaku....
Rasanya pikiran dengan setiap otot dan syarafku tak mau berkompromi, refleks gerak badanku serasa mendahului perintah otakku, tak kuasa diriku menahan untuk berdiri dan menghampirinya, hatiku tak kuasa menahan pesonanya..mataku tak bisa lepas memandangnya...perlahan kusadari bahwa dirinya menyadari keberadaanku, semakin kudekati, semakin Ia menaruh wajahnya dalam balutan hitam gelap kerudung hitamnya...angin menghantar suara senggukan menahan tangis yang semakin jelas kudengar. Hanya tinggal dua langkah lagi dapat kuraih dia, tapi ada kekuatan yang entah datang darimana yang sepertinya menahanku untuk sampai padanya, maka kuputuskan untuk tidak melanjutkan langkahku, kududuk bersila tepat dua langkah di depannya. Tetap tak bisa kulihat wajahnya. Yang kulihat hanya telapak tangannya yang saling bertemu di ujung lututnya yang terlipat dengan dua kakinya tertindih mengarah ke arah yang sama. Seperti kedua tangan yang ingin menggenggam satu sama lain namun tak bertenaga. Kusadari, dibalik sosoknya yang seakan diselimuti bayang-bayang, kulihat dua buah telapak tangan yang putih bersih, kulit yang masih kencang, kuku-kuku yang terpotong rapih sejajar dengan ujung jari, polos tanpa ada hiasan cincin atau apapun. Jemarinya terlihat lentik dengan susunan jari-jari yang elok dan penuh dengan sentuhan kelembutan, sungguh menggoda untuk menggenggamnya.
Situasi ini sungguh merupakan situasi yang canggung untuk dilakukan pada hari-hari yang normal oleh orang-orang normal dalam situasi yang normal. Seorang pria tak dikenal menghampiri tanpa sebab yang jelas dan duduk tepat berhadapan dengan wanita yang tak dikenalnya juga. Pikiranku sekarang seperti puting beliung yang semakin cepat berputar dan memporakporandakan akal sehatku, tak jelas apa bisa logikaku pikirkan saat ini, ini di luar logikaku, tak sedikitpun kurasakan penolakan darinya, tak ada kurasakan perasaan takutnya kepadaku.
Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada kata yang mampu kuucapkan, bahkan hampir tak sedikitpun oksigen yang kuhirup. Kuyakin ini nyata, tapi tak bisa kucubit pipiku untuk meyakinkannya. Situasi yang sama sekali tak pernah kualami. Tak ada penjelasan yang masuk akal bagiku. Ku bukan dari golongan mereka yang bernafsu untuk meperkasih wanita, ku bukan dari golongan mereka yang ingin menikmati seks setiap saat, ku patuh pada Tuhanku, kuhargai nasihat kedua orangtuaku, dan ku tak mau jatuh karena wanita. Bahkan tak bisa sedikitpun wajahmu kulihat, samar bisa kulihat bentuk badanmu, tak kulihat kecantikanmu, tak bisa kusimpulkan keseksianmu, jadi tak mungkin kutertarik padamu, kau hanya kuanggap misteri, tapi juga kenapa penasaran ini membawaku kepadamu, tak pernah ku tergoda oleh misteri kecuali misteri Tuhanku.
Mendadak putingbeliung pikiranku mereda perlahan seiring redupan isakan tangisnya dan tengadahan wajahnya yang perlahan. Degupan jantungku pun mereda, yang merupakan hal aneh dimana senormalnya justru jantung ini berdegup semakin kencang karena akan ada peristiwa yang menjadi jawaban sedikit penasaranku. Ketenangan mulai terasa disekitarnya, tirai bayangan sedikit-demi sedikit terbuka, cahaya mulai menyinari tubuhnya, pakaiannya yang serba hitam seakan memutih oleh sinar surya. Seketika saat wajahnya sudah mulai memenuhi pandanganku, penglihatanku tersilaukan oleh cahaya kehidupan bumi ini yang melesat langsung ke arahku, seketika kualihkan pandanganku darinya untuk menghindari dampak UV light kepada indera penglihatanku. Seketika setelahnya, kusadari ia tak lagi dihadapanku....kemana dia...kutatapi setiap jengkal sudut ruangan tempat kuberada, kuputar badanku hingga 360 derajat, tak kutemukan....secepat itu dia menghilang, atau selama itukah aku memalingkan pandangan??...Kucoba cari keluar...dengan berlari kecil kupastikan untuk melangkah keluar...dengan hamparan cahaya matahari menyambutku diluar, perlahan sinar itu meredup, disaat itu dapat jelas kulihat dirinya berdiri arah jam dua di depanku, kulihat jelas dan terang matanya yang agak besar membulat dengan kelopak yang tersisa pada bagian atas matanya, dengan sedikit ada lekukan yang agak dalam, bola mata berwarna coklat yang jelas terpancar memantulkan sinar matahari, alisnya yang naik sedikit tajam namun tetap menandakan kesenduan, wajahnya agak ouval dengan bagian dagu yang menajam, hidung mancung dengan ujung yang maju menajam, tapi tidak runcing bagian pinggirnya berbayang seperti bershading menajamkan keelokkan kesempurnaannya, bibirnya memiliki bentuk yang tegas, tidak tipis, tapi juga tidak tebal, bagian atas yang sedikit lebih maju dibandingkan yang bawah menambah keseksian sebuah bibir, berbalut kemerahan alami. Kulitnya putih kencang dengan bagian pipi dan dahi bagaikan kehalusan kulit bayi tanpa cacat, sedikit nampak keluar dari balik kerudungnya, kecoklatan rambut yang sepertinya ikal.
Kekakuan meramabhiku sampai kujung jari kakiku seiring mata sendunya yang menatap tajam mataku. Kebekuan itu luntur dengan dilemparkannya senyum kecil yang semakin menegaskan binaran matanya. Perlahan dia menghampiriku, seakan mendahuluiku yang karena tahu aku ingin menghampirinya. Tepat dia berdiri dihadapanku, tingginya tepat sampai pada ujung hidungku, bibirnya mulai bergerak menandakan adanya suara dan kata-kata yang akan terlontar...dengan keras kupikirkan, kuramalkan apa yang akan dia katakan, suara seperti apa yang akan kudengar...."hai" diikuti dengan senyuman yang tidak kalah anggunnya dengan yang sebelumnya....dalam hatiku kubertanya hanya itukah yang ingin dia katakan....wajahnya merubah dengan sedikit kerutan diantara alisnya, wajahnya menyerong 3 derajat kekiri, menandakan seperti rasa penasaran yang berbalik kepadaku. Sambil melempar senyum untuk yang ketiga kalinya, dia langkahkan kakinya menjauhiku, terus dia berjalan semakin jauh hingga sampai pada meter ke 7 dia lontarkan lagi senyuman keempatnya, tanpa kurencanakan, tanpa kuinginkan, kuberucap menyebut keagungan Tuhan, disaat itulah kusadari, sejenak Ia menjadi pengalih fokusku kepada Tuhanku, kusadari tapi tak kurasa ada dosa,.....sebuah pesona pengalih yang dulu kuanggap sebagai pesona jahat yang bisa mengalihkan siapa saja dari Tuhannya, tapi sepertinya tidak kali ini, kuucap keagungan Tuhan setelah bertemu dengannya..kuanggap sebagai anugerah, kuanggap Tuhanlah yang merencanakan ini......dengan senyum yang tertahan bagaikan kambing yang diikat lehernya dari kebebasan, kukembali kepada khayalan diskusiku dengan Tuhan....
No comments:
Post a Comment