Monday, April 11, 2011

Di lampu merah



 
Jakarta, senin 08.00 WIB di tanggal hitam, warung buncit....hampir semua orang pasti memiliki gambaran yang sama tentang keadaan di waktu dan tempat tersebut, terlebih mereka yang sedang berada di situ. Gambaran yang sangat biasa dijumpai dan pasti sudah bisa ditebak oleh siapapun yang ada di jakarta. Kemacetan, ...... bahkan bagi mereka yang seumur hidup tidak pernah keluar dari merauke pun tahu lewat berita televisi maupun koran. Permasalahan yang cenderung hanya dinikmati masyarakat Jakarta namun seakan menjadi masalah nasional.
Fenomena ini pun mungkin bisa menjadi perhatian dari NGO dan LSM lingkungan hidup. Bagi yang setiap hari merasakan tentunya tahu bagaimana rasanya menghirup udara ketika itu. Tak ada oksigen murni yang bisa dihirup, sekalipun berada di dalam kabin mobil dengan kaca tertutup rapat, kecuali mereka yang dengan sengaja memakai tabung oksigen khusus, seperti pasien yang sedang sekarat dalam ambulance. Bayangkan rasanya hirupan nafas yang tercampur asap knalpot, terlebih dari kendaraan berbahan bakar solar, apalagi yang tidak pernah melakukan perawatan rutin. Terkadang pun terasa adanya benda yang lebih padat dari udara terhisap masuk ke dalam hidung, tanpa tahu benda apa itu.
Masker yang dikenakan para pengendara motor pun sepertinya hanya menjadi penghias atau sekedar menghalangi aroma busuk knalpot. Diantara mereka mungkin ada yang tidak mencuci maskernya berhari-hari karena hanya memiliki sebuah, atau bahkan ada yang lupa menggosok giginya pada waktu mandi di pagi hari. Aromanya setidaknya mampu menggantikan aroma busuk knalpot kendaraan. Tapi tidak menjamin tersaringnya oksigen murni ke dalam saluran pernapasannya. Bayangkan keadaan yang lebih parah para polantas, penjaga pintu jalur bus transjakarta (yang kebanyakan orang bilang jalur BUSWAY), penjaja asongan dari mulai permen dan rokok serta tisu, ‘kemoceng’, lap mobil, dan para penjual rasa kasihan, yang hampir setiap detik dalam sisa hidupnya akan terus menghirup CO dan CO2, bahkan mungkin suatu hari mereka malah keracunan menghirup O2.
Dalam kurun waktu yang mungkin hanya sekitar dua jam, kita dapat melihat gambaran umum masyarakat Jakarta. Dari mereka yang dengan senangnya memamerkan salah satu koleksi kendaraan 500jutaan sampai pada mereka yang malu dengan kakinya yang bahkan orang lihat pun enggan. Kalau mau dilihat secara mudahnya, dari satu daerah dalam satu waktu ,warung buncit senin pagi tanggal hitam jam 08.00 WIB, mungkin bisa diambil kesimpulan, orang paling kaya di negeri ini ada di situ dan orang paling ga punya harta juga tidak mau kalah ikut-ikutan datang ke situ. Mungkin kalau dihitung secara probabilita, akan ada kemungkinan mereka berada bersebelahan.
Pagi itu Bapak Asnawi bersama supirnya, Andreas, ikut membantu petugas survey kemacetan Jakarta dengan menjalankan rutinitas sehari-harinya melintasi jalanan warung buncit di jam 08.00 WIB. Sambil menikmati secangkir kopi dan koran KOMPAS, Asnawi lalui pagi harinya di salah satu mobil 700 jutaannnya. “Dre, sudah sampai mana kita??”.tanyanya kepada sang supir tanpa pernah dia melihat ke arah jendela yang sangat jelas bisa menjawab pertanyaannya....”kita sedang berhenti di lampu merah di depan pejaten village pak”...”kenapa berhenti??” tanya asnawi lagi, yang pastinya pertanyaan itu menjadi sia-sia jika Ia mau melongok ke arah jendela di sisi kanan dan kirinya...”lampu di depan sedang menyala berwarna merah pak, merah seperti baju safari saya pak, atau mungkin merah seperti darah pak, dan yang saya tahu kalau lampu di depan itu menyala berwarna merah kita harus berhenti”..jawab si supir. “oh...jangan lama-lama berhentinya ya Dre”...”baik Pak”...sllurruuuppp...asnawi kembali kepada kopi hitam hangatnya.
Tampak dari jendela di sisi kanan Asnawi sebuah motor bebek Matic berwarna hitam dengan ditunggangi dua orang, si pengendara berjenis kelamin laki-laki, dan seorang perempuan duduk tepat dibelakangnya sambil memeluk erat sang pria pembonceng, seakan takut kalau sang pria lari dari genggamannya. Mereka berdua berusia sekitar 25-27 tahun. Si laki-laki bergaya layaknya seorang bikers dengan jaket kulit tebal, celana jeans kuat, sepatu boot hitam, dan helm merk Shoei yang juga berwarna hitam. Si perempuan mengenakan helm dengan tulisan Honda dan SNI dengan kaca helm yang sudah sangat buram karena banyak sekali goresan. Ia mengenakan rok pendek dengan hanya setengah bagian paha putih mulusnya yang tertutup, dengan sepatu ber-hak ia berusaha keras menaruh kakinya pada pijakan kaki pembonceng untuk mencari posisi yang nyaman. Dengan hanya tertutup jaket kain berkapucon, Ia selalu berusaha menghalangi masuknya angin ke tubuhnya dengan berlindung pada sang pria biker. “yang...lihat mobil sebelah deh, kayaknya nyaman ya di dalem, kayaknya adem tuh...si bapak bisa duduk tenang baca koran”...sambil tersenyum, sang lelaki menjawab..”mudah-mudahan ya, nanti juga kita yang ada di situ, sama-sama berdoa aja. Makanya,..kamu dukung kerjaan aku dong..jadi marketing itu kan awalnya pengusaha sukses”......”iya sih yang tapi kan hidup kita nih kayaknya pas-pasan mulu, enakan kalo kamu punya gaji tetap yang pasti, tapi gede...yaaaa...empat juta lah...biar aman” si perempuan menanggapi. “kamu sabar aja ya, .....” sambil tertawa kecil si lelaki melanjutkan omongannya..”emang kamu yakin kalau bahagia itu lewat uang, kalo mau diinget-inget, dulu sampe sekarang pendapatan kita naik terus lho, mungkin sampe satu miliar sebulan juga bakal kurang terus”.....tiba-tiba terjadi keheningan..........”yang...yang....kamu marah ya??”....dan si perempuan mengalihkan pembicaraan.”yang orang di motor sebelah kok ngeliatin ke sini terus ya??”...”bukan..dia nggak lihat ke kita, aku juga perhatiin kok, tadi aku kira dia ngelihat kita, tapi nggak kok...”
Motor honda Revo dengan keadaan kotor, jok sobek, fering pecah-pecah, dengan karung yang sepertinya seberat satu kuintal terduduk di belakang seorang pria dengan helm fullface tanpa kaca, yang mengenakan kaos tim bola lokal berwarna oranye, celana jeans belel biru digulung selutut dan sendal jepit merek terkenal. Pandangannya hampir tidak lepas dari mobil yang dikendarai andreas. “ini nih biang kemacetan, mobil gede begitu dipake dua orang doang, harusnya gue tuh yang make buat angkut sayur. Pake mobil begituan bisa sekali jalan angkut sayur, ga panas lagi. Ga adil emang nih dunia, kalo dipikir-pikir kan gue yang lebih butuh mobil gede begitu. Dia mah cukup pake motor gue aja, orang cuman bedua”...braakkk....”aduh..astagpiruloh...”tiba-tiba terjadi benturan antara mobil yaris berwarna putih dengan honda revo si pembawa sayur.
Dari toyota yaris putih keluar seorang perempuan sekitar usia 22 tahun dengan kaos putih bertuliskan “ZARA” berwarna hitam, tampak samar-samar dibalik baju putih terlihat bra hitam yang menutupi benda berukuran D-cup. Celana jeans yang hipster sedikit turun memperlihatkan belahan pantat tanpa cacat, yang seakan-akan menunjukkan mahasiswi ini tidak bercelana dalam, sejenak ketika turun dari mobil. “aduh neeennggg...ati2 dong, jangan mundur sembarangan”....dengan nada tinggi dan membentak, keluar emosi dari suara serak sang mahasiswi cantik..”EH...YANG GOBLOK TUH LO, GW KAGAK MUNDUR BEGO, JELAS GW PASANG GIGI NETRAL”...sambil sesekali melihat-lihat bumper belakang mobilnya untuk melihat apakah ada kerusakan. “WADUH...LECET LAGI...GIMANA NIH PAK..”...”lha saya mah ga tau neng, orang bukan saya yang nabrak, lagian tuh liat dong neng sayuran saya berantakan semua, yang ada saya juga yang rugi neng”....”LHA KOK BALIK NYALAHIN, COBA TANYA DEH, BANYAK YANG LIAT NIH YANG NABRAK SIAPA”....dari sekeliling terdengar samar-samar pembicaraan orang-orang yang sama sekali tidak jelas membicarakan apa, hanya firasat kalau mereka semua membicarakan dua orang yang sedang emosi ini. Datang pria berseragam coklat dengan masker hitam dan helm putih tanpa kaca pelindung, yang menurut gambaran banyak orang merupakan petugas polisi. “ada apa??” tanya polisi...”ini pak, lagi lampu merah mobil saya ditabrak” jelas mahasiswi....”lha kagak pak yang ada dia tiba-tiba mundur ga jelas”.bela si pembawa sayur..”sekarang liat pak sayuran saya berantakan” tambah si pembawa sayur....perdebatan terus terjadi..lampu lalu lintas pun tidak kunjung menyala hijau..
Dari dalam mobil asnawi. “ada orang ribut di luar pak”..”oh ya...kenapa tuh??”....”kurang tahu juga pak...” ...”udah lah dre kamu fokus aja sama jalan, ngomong-ngomong udah di mana nih kita??”..”masih di lampu merah pak” ...”emang warung buncit ini banyak sekali lampu merah ya dre..”...
“yang...kenapa tuh??”...”ga tau deh, kayaknya motor sebelah jatoh..”...”kenapa bisa jatoh yang??”....”kurang tahu juga, dari tadi kan kita ngobrol, emang tadi sempet denger suara tabrakan, kayaknya sih motor yang nabrak”...”sepatu cewe itu bagus deh yang, aku pernah liat tuh di senayan city, waktu itu lagi diskon 50%, tapi harganya dua ratus ribu”....
“begini aja deh pak...mbak...kepinggir aja dulu, takutnya sebentar lagi lampu hijaunya nyala, biar tidak mengganggu kendaraan lain”....”tapi pak saya telat kuliah nih”...”lha sayuran saya gimana pak”...”nanti dibicarakan setelah semua kepinggir ya. Sekarang coba beresin dulu sayurannya biar nggak ganggu jalan ya pak, ayo mbak minggir dulu”...
Mahasiswi balik ke mobilnya, sayuran berhasil terangkut kembali, lampu hijau pun menyala, semua kendaraan langsung memberi klakson kepada kendaraan di depannya sebagai tanda untuk segera jalan. Kembalilah polisi ke perempatan jalan. Tak ada masalah yang selesai, motor sayur belok ke kanan, yaris melesat ngebut lurus dengan bermanuver menyelip dan meyalip hampir semua kendaraan di depannya, dan mobil yang dikendarai andreas hanya mampu berjalan sekitar 7 meter untuk kemudian berhenti lagi, karena kendaraan di depan juga tidak bisa jalan karena kepadatan di depan, meskipun lampu masih menyala hijau.

No comments:

Post a Comment