Saturday, April 30, 2011

Hidup dalam Ke Abu-Abu-an

Setiap orang yang telah mampu untuk berbicara, mengutarakan pendapat, dan bahkan telah sanggup memfungsikan akalnya, tentunya sadar bahwa kehidupan mereka selalu diiringi aturan-aturan yang memberikan batasan-batasan pergerakan bahkan pemikiran. Secara umum, batasan-batasan itu mulai kita kenal sebagai sebuah moralitas dan nilai-nilai, yang coba ditanamkan pada diri setiap orang dimanapun berada, sekalipun mereka yang hidup di hutan belantara. Sungguh sangat dirasakan bagaimana nilai-nilai itu memperkenalkan kita pada hal-hal yang antara satu dan lainnya saling bertolak belakang, seperti benar dan salah, serta baik dan buruk. Pada perkembangannya, nilai-nilai tersebut pun menjadikan kita seorang penilai.
Ketika manusia masih tersebar terlalu jauh dimuka bumi ini, dan belum ada kemudahan interaksi antara satu dan lainnya, sangat mudah untuk mempertahankan nilai-nilai yang berlaku dalam satu komunitas. Dimana nilai-nilai itu sampai pada tahap dianggap sebagai yang universal, berlaku untuk semuanya. Sampai pada satu momentum dimana interaksi antar manusia dimuka bumi ini terbuka lebar. Terjadilah benturan antar nilai. Tak sedikit benturan itu yang melahirkan asimilasi, antara yang satu dengan yang lain saling mengisi. Tapi tak sedikit pula yang benturannya berakibat kepada perseteruan. Timbul perasaan bahwa nilai yang dipegang adalah yang paling benar. Muncullah kefanatikan. 

Perkembangan kehidupan untuk selanjutnya pun tidak pernah terlepas dari nilai-nilai itu. Beberapa dari umat manusia mencoba untuk mencari sebuah titik universal antar nilai. Namun tetap, pembauran nilai-nilai tak bisa dihindarkan. Percampuran antar nilai telah memberikan pengaruh dari setiap nilai-nilai yang kita pegang. Bahkan terkadang disadari bahwa kita tidak bisa bereda dalam satu tatanan nilai tertentu. Diperlukan adanya pengetahuan tentang nilai-nilai lainnya untuk memberikan penghormatan dan penghargaan agar dapat hidup berdampingan. Di situlah saatnya dimana pada akhirnya kita seringkali lupa kepada nilai yang telah kita pegang, untuk dapat "berdamai". Tidak bisa dipungkiri juga, masih ada mereka yang dengan sepenuh nyawa mempertahankan nilai-nilai yang dipegang, dan dengan keras menolak nilai-nilai lainnya. 

Mereka yang berada dalam lingkungan kefanatikan terhadap suatu nilai kemudian dianggap sebagai orang-orang aneh, penghambat globalisasi, udik, dan ketinggalan zaman. Diantara mereka yang fanatik, dan mereka yang global, tetap akan timbul konflik. Orang-orang aneh cenderung akan mendapatkan ejekan -atau setidaknya itu yang mereka rasakan- meskipun hanya lewat pandangan mata. Begitu juga sebaliknya. Saat ini dapat dilihat bagimana gelombang kefanatikan itu semakin (di)pudar(kan) oleh globalisasi. Sepertinya mereka yang memegang nilai global itu merasa memiliki nilai yang lebih benar dan berusaha merubah tatanan nilai komunitas fanatik.

Sebagai masyarakat Indonesia saat ini, mungkin cukup sadar kalau sudah tidak ada nilai-nilai konservatif yang sanggup untuk dipertahankan, kecuali mungkin mereka yang hidup di pedalaman yang bahkan tidak mengenali Dian Sastro. Namun nilai budaya majemuk kita pada dasarnya telah memberi banyak pengaruh dalam tatanan nilai di masyarakat. Bahkan mungkin saat ini Bangsa Indonesia sudah tidak memiliki identitas nilai yang jelas dan tegas. Sudah terlalu banyak pengaruh dari luar. Nilai-nilai universal keBhinekaan yang dulu kita pegang sekarang telah menjadi impian utopis. Sangat dirasakan bagaimana susahnya masyarakat kita saat ini menerima perbedaan. Sepertinya masing-masing diantara kita merasa telah memegang nilai yang paling benar. Perasaan paling benar itu lantas menjadikan nilai'kebenaran' itu menjadi bias. Ketika timbul pertanyaan apa itu kebenaran??..mana hal yang baik dilakukan???....hampir bisa dipastikan jawabannya akan berbeda-beda dan memiliki pamater yang tidak sama.
Pemakluman perbedaan dengan ego merasa paling benar tanpa ditunjang pegangan nilai yang jelas, kemudian melahirkan budaya 'relatif'. Segala hal kemudian dianggap relatif. Benar itu relatif, baik itu relatif, bahkan sudah ada yang berani menentukan kadar dosa itu relatif. Dosa, sebagai hal yang dulu dianggap sebagai keseraman, nampaknya pun telah mendapat tempat di sudut keacuhan. Ke'relatif'an itu membawa kita manusia kepada area nilai yang juga relatif. Sehingga terkadang nilai-nilai baru yang ada bisa seenaknya kita terima dan kita buang. Bahkan setelah dibuang pun bisa dipungut kembali. Padahal sebuah peradaban manusia maju salah satunya karena penilaian manusia akan sebuah nilai itu sangatlah tinggi. Sebuah nilai yang dijadikan pegangan teguh seorang manusia menjadikannya seorang manusia bijak, memiliki kebahagiaan yang mutlak, dan akal yang sehat. Karena dengan berpegangan pada nilai tersebut, tujuan hidup seorang manusia akan semakin jelas, ukuran sebuah kebahagiaan juga sangat tegas, dan harapan bukan hanya sekedar khayalan.

Tidak heran jika saat ini masyarakat semakin mundur. Memang bukan dalam hal teknologi -meskipun sampai saat ini belum ada ilmuwan yang menerti cara membangun piramid-, tapi dalam hal kebijaksanaan, kedewasaan, tujuan hidup, dan batasan-batasan kehidupan. Karena kita selalu hidup dalam dunia yang abu-abu. Kita takut untuk berada pada yang hitam, bahkan yang putih. Kita selalu bertahan pada sudut yang relatif, yang kita benarkan sebagai area keseimbangan antara hitam dan putih. Wajar jika kita susah untuk mengambil keputusan, wajar jika kita sulit untuk bahagia, wajar jika semakin banyak orang stres, karena mereka berada pada titik keseimbangan dan selalu menoleh kanan dan kiri, tidak fokus pada jalan yang dikiri atau dikanan.

No comments:

Post a Comment