Saturday, April 30, 2011

Hidup dalam Ke Abu-Abu-an

Setiap orang yang telah mampu untuk berbicara, mengutarakan pendapat, dan bahkan telah sanggup memfungsikan akalnya, tentunya sadar bahwa kehidupan mereka selalu diiringi aturan-aturan yang memberikan batasan-batasan pergerakan bahkan pemikiran. Secara umum, batasan-batasan itu mulai kita kenal sebagai sebuah moralitas dan nilai-nilai, yang coba ditanamkan pada diri setiap orang dimanapun berada, sekalipun mereka yang hidup di hutan belantara. Sungguh sangat dirasakan bagaimana nilai-nilai itu memperkenalkan kita pada hal-hal yang antara satu dan lainnya saling bertolak belakang, seperti benar dan salah, serta baik dan buruk. Pada perkembangannya, nilai-nilai tersebut pun menjadikan kita seorang penilai.
Ketika manusia masih tersebar terlalu jauh dimuka bumi ini, dan belum ada kemudahan interaksi antara satu dan lainnya, sangat mudah untuk mempertahankan nilai-nilai yang berlaku dalam satu komunitas. Dimana nilai-nilai itu sampai pada tahap dianggap sebagai yang universal, berlaku untuk semuanya. Sampai pada satu momentum dimana interaksi antar manusia dimuka bumi ini terbuka lebar. Terjadilah benturan antar nilai. Tak sedikit benturan itu yang melahirkan asimilasi, antara yang satu dengan yang lain saling mengisi. Tapi tak sedikit pula yang benturannya berakibat kepada perseteruan. Timbul perasaan bahwa nilai yang dipegang adalah yang paling benar. Muncullah kefanatikan. 

Perkembangan kehidupan untuk selanjutnya pun tidak pernah terlepas dari nilai-nilai itu. Beberapa dari umat manusia mencoba untuk mencari sebuah titik universal antar nilai. Namun tetap, pembauran nilai-nilai tak bisa dihindarkan. Percampuran antar nilai telah memberikan pengaruh dari setiap nilai-nilai yang kita pegang. Bahkan terkadang disadari bahwa kita tidak bisa bereda dalam satu tatanan nilai tertentu. Diperlukan adanya pengetahuan tentang nilai-nilai lainnya untuk memberikan penghormatan dan penghargaan agar dapat hidup berdampingan. Di situlah saatnya dimana pada akhirnya kita seringkali lupa kepada nilai yang telah kita pegang, untuk dapat "berdamai". Tidak bisa dipungkiri juga, masih ada mereka yang dengan sepenuh nyawa mempertahankan nilai-nilai yang dipegang, dan dengan keras menolak nilai-nilai lainnya. 

Mereka yang berada dalam lingkungan kefanatikan terhadap suatu nilai kemudian dianggap sebagai orang-orang aneh, penghambat globalisasi, udik, dan ketinggalan zaman. Diantara mereka yang fanatik, dan mereka yang global, tetap akan timbul konflik. Orang-orang aneh cenderung akan mendapatkan ejekan -atau setidaknya itu yang mereka rasakan- meskipun hanya lewat pandangan mata. Begitu juga sebaliknya. Saat ini dapat dilihat bagimana gelombang kefanatikan itu semakin (di)pudar(kan) oleh globalisasi. Sepertinya mereka yang memegang nilai global itu merasa memiliki nilai yang lebih benar dan berusaha merubah tatanan nilai komunitas fanatik.

Sebagai masyarakat Indonesia saat ini, mungkin cukup sadar kalau sudah tidak ada nilai-nilai konservatif yang sanggup untuk dipertahankan, kecuali mungkin mereka yang hidup di pedalaman yang bahkan tidak mengenali Dian Sastro. Namun nilai budaya majemuk kita pada dasarnya telah memberi banyak pengaruh dalam tatanan nilai di masyarakat. Bahkan mungkin saat ini Bangsa Indonesia sudah tidak memiliki identitas nilai yang jelas dan tegas. Sudah terlalu banyak pengaruh dari luar. Nilai-nilai universal keBhinekaan yang dulu kita pegang sekarang telah menjadi impian utopis. Sangat dirasakan bagaimana susahnya masyarakat kita saat ini menerima perbedaan. Sepertinya masing-masing diantara kita merasa telah memegang nilai yang paling benar. Perasaan paling benar itu lantas menjadikan nilai'kebenaran' itu menjadi bias. Ketika timbul pertanyaan apa itu kebenaran??..mana hal yang baik dilakukan???....hampir bisa dipastikan jawabannya akan berbeda-beda dan memiliki pamater yang tidak sama.
Pemakluman perbedaan dengan ego merasa paling benar tanpa ditunjang pegangan nilai yang jelas, kemudian melahirkan budaya 'relatif'. Segala hal kemudian dianggap relatif. Benar itu relatif, baik itu relatif, bahkan sudah ada yang berani menentukan kadar dosa itu relatif. Dosa, sebagai hal yang dulu dianggap sebagai keseraman, nampaknya pun telah mendapat tempat di sudut keacuhan. Ke'relatif'an itu membawa kita manusia kepada area nilai yang juga relatif. Sehingga terkadang nilai-nilai baru yang ada bisa seenaknya kita terima dan kita buang. Bahkan setelah dibuang pun bisa dipungut kembali. Padahal sebuah peradaban manusia maju salah satunya karena penilaian manusia akan sebuah nilai itu sangatlah tinggi. Sebuah nilai yang dijadikan pegangan teguh seorang manusia menjadikannya seorang manusia bijak, memiliki kebahagiaan yang mutlak, dan akal yang sehat. Karena dengan berpegangan pada nilai tersebut, tujuan hidup seorang manusia akan semakin jelas, ukuran sebuah kebahagiaan juga sangat tegas, dan harapan bukan hanya sekedar khayalan.

Tidak heran jika saat ini masyarakat semakin mundur. Memang bukan dalam hal teknologi -meskipun sampai saat ini belum ada ilmuwan yang menerti cara membangun piramid-, tapi dalam hal kebijaksanaan, kedewasaan, tujuan hidup, dan batasan-batasan kehidupan. Karena kita selalu hidup dalam dunia yang abu-abu. Kita takut untuk berada pada yang hitam, bahkan yang putih. Kita selalu bertahan pada sudut yang relatif, yang kita benarkan sebagai area keseimbangan antara hitam dan putih. Wajar jika kita susah untuk mengambil keputusan, wajar jika kita sulit untuk bahagia, wajar jika semakin banyak orang stres, karena mereka berada pada titik keseimbangan dan selalu menoleh kanan dan kiri, tidak fokus pada jalan yang dikiri atau dikanan.

Wednesday, April 27, 2011

Dibutuhkan: Peradilan yang Solutif

Peradilan merupakan salah satu lembaga yang bertanggungjawab memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Bentuk layanan yang diberikan termasuk dalam kategori yang memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan target utama dari bentuk pelayanan itu adalah hal yang bersufat sangat abstrak, yaitu keadilan. Keadilan itu sendiri pun hingga kini pendefinisiannya masih berada dalam jalan perdebatan yang panjang. Tak bisa jika keadilan itu hanya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berimbang, tidak berat sebelah, dan tidak memihak. Hal-hal tersebut hanya menjadi segelintir faktor dalam memenuhi keadilan. Tidak semua orang dapat mengukur dan melihat dari sudut pandang yang sama akan hal tersebut. Jadilah sebuah tantangan yang sangat besar bagi Peradilan yang bertanggungjawab untuk mewujudkan itu, terlebih di masyarakat yang majemuk dengan pegangan moralitas serta nilai yang sudah berbeda-beda dari awalnya.
Hal pertama yang menjadi tantangan adalah keberagaman suku bangsa, budaya, dan agama masyarakat kita. Di mana ketiga hal tersebut menelurkan nilai-nilai dan moralitas yang kemudian dipegang sebagai prinsip dari setiap individu yang berada dalam komunitasnya. Hukum positif negara ini terlahir di tengah-tengah situasi tersebut, pada saat masyarakat telah memiliki nilai-nilai tersendiri yang berbeda-beda antar komunitas, yang kemudian dipaksakan untuk menaruh sebuah norma yang dapat dipatuhi oleh semuanya. Terlepas dari bagaimana sejarah itu dibangun, namun kenyataan saat ini, norma yang tertuang dalam hukum positif itu masih belum mampu menaungi beberapa kebiasaan, kultur, dan kepercayaan kelompok masyarakat tertentu. Keberadaan adat istiadat, kebiasaan, dan kultur, khususnya masyarakat adat negara ini, tentunya tidak akan dan tidak mau untuk dihilangkan. Keberadaan mereka telah menjadi kekayaan utama bangsa ini. Sangatlah sulit ketika ada hukum positif yang perbedaannya dibenturkan dengan nilai-nilai lama yang berlaku. Benturan itu pasti akan melahirkan perlawanan dari masyarakat, padahal hukum itu dibuat untuk memberikan ketertiban dan stabilitas dalam masyarakat. Sebagai kesimpulan adalah bahwa peradilan harus dapat ditempatkan pada posisi yang bersifat universal ditengah-tengah kemajemukan yang ada.
Hal kedua yang menjadi tantangan adalah bahwa selama ini Hukum positif yang telah diterapkan seringkali dianggap belum mampu membawa keadilan sebagai tujuan utama. Tidak bisa dipungkiri bahwa kinerja para aparat yang bertugas di peradilan, selalu dikejar target yang sifatnya angka bulat. Adanya konsekuensi bagi mereka yang tidak dapat mencapai target itu, menjadikan para ponggawa hukum kita terbiaskan fokusnya ke arah target, yang membawa kepentingan karir dan jabatan bagi mereka. Diantara mereka pun pada akhirnya tidak sedikit yang menjadi \"pemain\" dalam rangka memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang terlibat dalam peradilan, entah itu antara kepentingan negara dengan tersangka/terdakwa dalam peradilan pidana, maupun kepentingan penggugat dan tergugat dalam peradilan perdata. Tak sedikit juga para \"pemain\" itu tercipta oleh salah satu pihak yang ingin mencari keadilan menurut persepsinya sendiri. Jauh di kemudian hari terciptalah suatu masyarakat yang \"relatif\" seperti sekarang. Di mana-mana dianggap tidak ada kesamaan persepsi, tidak ada kesepakatan terhadap pemahaman, tidak ada obyektif, semua serba relatif. Hukum sudah tidak dapat diterapkan secara penuh sebagai alat \"keharusan\", tapi menjadi alat untuk membawa kepentingan tertentu yang bisa menjadi \"pemain\" yang lebih kuat. Bukan stabilitas, bukan ketertiban, bukan keadilan, tapi lebih berbicara siapa pemenang, siapa yang kalah.
Tantangan yang ketiga khususnya terkait peradilan pidana, menyangkut permasalahan dalam pemidanaan. Selama ini masyarakat sudah cukup memahami bahwa mereka yang telah menjadi terdakwa dalam perkara pidana, jika pada akhirnya diputus bersalah melakukan tindak pidana akan berakhir dipidana, atau lebih dikenal dengan dipenjara. Pemidanaan itu berangkat dari filosofi yang cukup kuat. Kenapa seseorang itu dipidana berawal dari tujuan untuk memberikan pembalasan, penjeraan, dan rasa takut bagi mereka yang belum melakukan tindak pidana yang bersangkutan. Namun seiring perkembangan budaya universal manusia yang mengarah kepada hak asasi, pemidanaan dirubah menjadi pemasyarakatan, dimana mereka yang tadinya dibui untuk diberi hukuman, berubah  tujuannya untuk dibina agar dapat kembali sebagai masyarakat dan diterima masyarakat. Namun yang terjadi adalah, karena efek domino dari masalah yang timbul di penjelasan sebelumnya, proses pembinaan itu pun tidak dapat berjalan dengan baik. Masyarakat yang kesal dengan kelakuan para pelaku tindak pidana, ada stigma, dan aparat yang mengejar target menjadikan pemasyarakatan berubah kembali menjadi sarana pemberi \"hukuman\", \"ganjaran\", dan \"pembalasan\".
Permasalahan yang dijelaskan di atas pada akhirnya menunjukkan pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa peradilan yang ada dan berjalan hingga kini bukanlah untuk memenuhi solusi permasalahan yang datang pada peradilan. Perlawanan dari masyarakat atas eksekusi putusan pengadilan, maraknya residivis, penyiksaan oleh aparat, telah menjadi segelintir masalah yang menunjukkan tidak ada solusi lewat peradilan. Lantas kemudian bagaimana peradilan yang solutif itu, mereka yang telah kalian pilih melalui pemilu itulah yang wajib mempertanggungjawabkannya, dan sebagai pemilih sudah sepantasnya untuk meminta. Tuhan yang telah kita pilih aja bisa kita mohon tiap hari...hahaha...ga nyambung,,,,,,

Saturday, April 16, 2011

Perbedaan

Dapat dikatakan istilah perbedaan sudah disadari keberadaannya dari awal manusia menjajaki kakinya di bumi ini. Meskipun itu tidak dikenal sebagai sebuah kata, namun pemaknaannya tetap berada dalam posisi yang  sama sekalipun dalam pola pikir yang berbeda. Beranjak dari hal yang termudah untuk dimengerti yang sifatnya materil, konkret, dan kasat mata, hingga pada hal yang memiliki keabstrakan yang cenderung berkaitan dengan pemikiran dan perasaan. Semua hal yang memiliki makna "berbeda" dapat dipersepsikan.
Kesadaran akan kesamaan persepsi itu sayangnya kurang begitu disadari. Pemaknaannya sering terbentur oleh cara menyikapinya. Semua orang dapat dianggap tahu akan keberadaan sebuah atau sebanyak perbedaan yang ada, namun dalam hal menyikapi perbedaan cenderung membawa permasalahan. 
Meninjau dari sejarah, seperti halnya komunitas masyarakat yang berada dalam kelompok Yesus dan Muhammad, menyadari adanya manusia pertama yang bernama Adam. Ia diciptakan sebagai sosok yang dipahami berjenis kelamin laki-laki. Kemudian dari secuil bagian tubuhnya diciptakan Hawa (Eve), yang dapat dipahami berjenis kelamin perempuan. Dari penciptaan Hawa (Eve), Adam menyadari adanya perbedaan diantara mereka yang sama-sama menyadari dirinya sebagai manusia. Perbedaan itu terus berlangsung dengan baik hingga terlahir anak-anak Adam, yang seiring pertumbuhan kedewasaannya, Tuhan memberikan perintah dengan menentukan pasangan-pasangan dari anak Adam untuk melakukan perkembangbiakan. Dari pemasangan tersebut, sangat disadari oleh semua anak Adam bahwa Tuhan memasangkan mereka dengan cukup memberikan kelapangan pada perbedaan setiap pasangannya. Mudahnya mereka memahami diantara mereka yang merasa memiliki penampilan fisik yang kurang baik dipasangkan dengan anak Adam yang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik.
Diantara anak Adam tersebut, ada yang tidak menerimanya. Ia yang terlahir dengan keunggulan penampilan fisik, merasa harus dipasangkan dengan yang memiliki penampilan fisik yang baik pula. Dapat dilihat bagaimana salah satu anak Adam itu menyikapi perbedaan, ia tidak mau menerima pembedaan yang telah coba ditentukan. Hingga sampailah pada tindakan penghilangan nyawa yang pertama dimuka bumi ini.
Kejadian nyata adanya penyikapan perbedaan yang berujung pada perpecahan ada pada sejarah terbentuknya negara Pakistan. Sebagaimana dapat dilihat pada literatur sejarah, Pakistan memisahkan diri dari kesatuan Hindustan, dikarenakan masalah perbedaan keyakinan. Kehidupan Hindu yang kental pada mayoritas masyarakat Hindustan, tidak bisa dipersatukan dengan keIslaman masayarakat lainnya yang juga hidup di wilayah tersebut. Sapi yang disembelih masyarakat Islam dianggap menghina masyarakat Hindu yang mendewakan Sapi. Perbedaan ini yang kemudian memutuskan hubungan masyarakat Islam yang membentuk negara Pakistan. 
Seorang Galileo yang di Hukum oleh Gereja karena memberikan pernyataan yang berbeda dari pernyataan gereja tentang tata surya, Nelson Mandela yang dipenjara karena memperjuangkan hak msayarakat kulit hitam di Afrika Selatan, KuKlux Klan yang membantai setiap bangsa selain kaukasoid, dan Tragedi Lombok, mencirikan adanya sebuah penyikapan atas perbedaan yang membawa dampak yang kurang baik. 
Setiap langkah sejarah ini sesungguhnya sudah cukup membuktikan bahwa akan selalu ada usaha untuk merubah cara penyikapan terhadap perbedaan yang berdampak buruk tersebut. Cerita kemenangan dari perjuangan-perjuangan itu setidaknya mampu untuk dapat dipelajari. Pernyataan Galileo telah dibuktikan kebenarannya bertahun-tahun setelah kematiannya. Masyarakat kulit hitam yang telah diangkat statusnya pun telah nyata mampu menjadi penghibur dunia ini melalui musiknya. Bahkan di India pun akan tetap ada masyarakat Islam.
Perbedaan akan selalu disadari keberadaannya disetiap mata ini memandang. Bahkan yang dinamakan kembar mutlak pun tak ada. Sidik jaripun tak ada yang sama. Jika perbedaan sekecil itu bisa disikapi dengan lebih baik, lalu kenapa tidak untuk terus menambah kedewasaan  kebijaksanaan kita dalam memberikan sikap yang lebih dewasa terhadap perbedaan yang lebih besar??. Mungkin saja memang diantara kita ada yang tidak belajar dari perbedaan yang terkecil, namun langsung ingin beranjak pada diskusi perbedaan terbesar dan bersifat abstrak. Tentu saja mereka yang seperti itu bukanlah orang yang bodoh, mereka hanya menjadi orang yang lupa. Akuilah bahwa kita adalah makhluk pelupa. Untuk itu seorang Muhammad, Yesus, Buddha, Konfusius, dan para tokoh besar Pejuang Dunia ini datang sebagai pembawa per'ingat'an, bukan penghukum, bukan pendoktrin. Usaha mereka berhasil bukan dengan menghakimi, mereka berhasil karena berhasil mengingatkan banyak orang. Jika kita meyakini ajaran mereka, tentunya yang bijak dilakukan adalah mengingatkan mereka yang lupa, termasuk kita.
Perbedaan bukanlah musuh, perbedaan bukanlah kendala, perbedaan bukanlah hambatan. Percuma berusaha untuk menghilangkannya, karena perbedaan itu "ADA", dan perbedaan itu adalah "KITA"

Thursday, April 14, 2011

In God(s) Name

Kupercaya.........
Dalam namaMu kehidupan tercipta...
Dalam namaMu harapan terbentang...
Dalam namaMu keabadian sesungguhnya berada...
Mereka sebut namaMu.....
untuk mengawali hari......
dalam setiap langkah....
dalam akhir setiap hari....
menuju kehidupan selanjutnya.....

Tapi Kenapa.........
ada mereka yang dalam namaMu merusak kehidupan....
ada mereka yang mendasari kebencian atas namaMu....
ada mereka yang hidup tanpaMu.....
ada mereka yang membenciMu.....

Juga Dalam namaMu...
Richard the Lion Heart berseteru dengan Salahudin.....
Alqaeda hancurkan amerika....
Pakistan berpisah dari India......
Tragedi maluku pecah....
mereka menusuk, membakar, rasis!!...

Dalam namaMu.....
Dalam namaMu.....

Kala itu.....

kebingungan seorang anak manusia di tengah hujan deras yang tak kunjung henti memikirkan hidupnya, masa depannya, kebahagiaan dalam liputan kesedihan, aaaaaahhhhh.....
gw ga bisa pulaaaaangggg....
langkah ini masihlah sangat panjang......jarak FHUI-Kutek bagaikan sebuah garis lurus yang tak terputus....diri ini terasa berada dalam seonggok titik kecil dalam garis tak berujung....seberapa kecilnya diri ini terasa dalam keagungan Tuhan yang sedang menurunkan berkah hujan yang tak kunjung henti.....apa daya makhluk kecil ini menghadapi kuasa Tuhan yang tak tertandingi.....apa daya ketika Tuhan sedang berkehendak diri ini tak mampu memaksakan langkahnya untuk pulang....
menangis..????marah???....apa...apa yang harus kulakukan ya Tuhanku....
sudah mau muntah daku mendengar teriakan Corey Taylor hingga lekikan suara biola aransemen Mozart....Ampuuuunnn....hamba-Mu ini sudah tidak berdaya menghadapi kedigdayaan-MU...
apa daya diri ini hanya ditemani sekawanan sampoerna mild menthol yang beberapa masa lagi akan tiba waktunya untuk berpulang.....kretek demi kretek kulihat kurasakan kudengar langkah kepergiannya....
aku tak mampu membayangkan mau bergantung pada siap lagi jika seonggok silinder berwarna putih itu harus pergi.....sudah cukup diri ini menangisi kepergian sang pembawa kehidupan, AQUA......
mau kemana langkah ini kan kubawa ya Tuhan ku......

langkah hidup seorang manusia
10 Februari 2009 4:17am

Charm of an Evil

Pada hari ini, seperti biasanya semenjak 2 dekade lalu, sudah menjadi kebiasaanku untuk menyediakan dua kali 60 menit dari hari ini untuk minta didengarkan oleh Ia yang hingga saat ini masih kusebut sebagai TUHAN...... Ia yang dibalik ketidaktahuanku akan pendengarannya telah menjadi pendengar setiaku....tak ada sanggahan, tak ada interupsi, bahkan tak ada perdebatan yang pernah terjadi, sungguh kuanggap Ia sebagai yang selalu menghargai suaraku...dan yang paling tertarik dariNya adalah Ia selalu memberikan jawaban bukan lewat suaranya, tapi melalui hatiku, yang tak pernah sampai logikaku untuk bahkan memberanikan diriku mencari tahu bagaimana bisa sampaii kesitu.....
Sampailah ku pada sebuah bangunan tua yang terlihat kokoh...bangunan yang kurasa mampu membuat nyaman siapapun hanya dengan merasakan aliran kesejukkan yang dihembuskan melalui setiap bidang ruang keterbukaan pada jendela dan pintu yang terbuka lebar, yang seakan-akan menjadi perlambang Ia yang senantiasa menjadikan dirinya terbuka bagi siapa saja yang ingin datang kepadaNya......Pillar-Pillar beton penyangga bangunan ini sungguh terasa sebagai penyangga Iman yang dibangun olehNya dalam setiap hati yang mau memelihara keutuhan bangunan kerajaanNya... Tapi tetap saja, sebagai bangunan yang sudah hampir 5 abad berdiri ini, ia tak pernah berhenti menghembuskan aroma keangkeran yang kurasakan sebagai kemisteriusan Ia yang tak masuk akal.
Dua buah pintu kayu jati, yang kekokohannya menunjukkan kalau ia terbangun dari kayu jati yang telah berumur lebih dari 80 tahun, mereka terbelah dua ke arah dalam bangunan seperti dua penjaga dengan kedua tangannya yang mempersilahkan ku masuk dengan segala keramahan, tapi juga dingin tanpa ekspresi. di dalam tak banyak kulihat orang yang berkomunikasi denganMu hari ini...hanya kulihat dua orang laki-laki yang masing-masing duduk di sudut ruangan di depan altarMu dengan duduk bersila sambil menundukkan kepala dengan bibir bergerak tanpa terdengarsuara bahkan bisikkan sekalipun. Ku dudukkan badanku tepat berada di tengah-tengah rumahMu, yang memang selama ini telah menjadi tempat favoritku dan tanpa pernah ku reserve selalu ku diberi kesempatan untuk bisa terduduk di tepat dibawah lampu kristal dengan rantai baja teruntai dan mengait pada atap beton dengan lukisan keagunganMu, yang kurasa pelukisnya sangat mengagungkanMu, sangat terasa dalam lukisannya, dan itu pesan yang tersampaikan padaku.
Mimbar tempat utusanmu menyampaikan ajaranmu begitu bercahaya oleh mataharimu yang sangat jernih terpancar dari pintu dan jendela, yang entah bisa kusebut keajaiban atau memang sebuah proses alam, yang sebenarnya keduanya datang dariMu, karena cahaya itu tepat tertuju kepada sudut bangunan yang meneluk dengan latar sebuah karya seni yang berkilauan yang lagi-lagi menunjukkan keagunganMu, sinar mataharimu semakin memperkuat esensi karya seni itu...Sejenak cahaya itu terhalang sesuatu yang berdiri tegak di depan pintu masuk, kutahu itu dari bayangan hitam panjang yang ikut sedikit menutupiku hingga mimbar Khotbah. Kulihat bayangan itu bergerak ke arah kanan, kucoba kuikuti rasa penasaranku, kutengokkan 80derajat wajahku, kutambahkan 75 derajat lagi mataku.....tak begitu jelas, tapi dari ujung mata tampak siluet hitam yang kuyakin itu seorang wanita dengan kerudung.....Kucoba untuk tidak tergoda, karena memang biasanya mataku benar-benar terfokus pada setiap karya yang dibuat oleh salah satu ciptaanMu yang agung...tapi tidak pada ciptaanMu, itu biasa kulakukan setelah selesai ku berimajinasi bersamaMu. Tapi kali ini sedikit berbeda, godaan itu begitu besar, konsentrasiku buyar, imajinasiku terlepas, gambaran diriMu perlahan hilang, prediksi akan wujud wanitaMu di ujung sana yang terus menguat.
Tak kuasa, apa daya jika bahkan kekuatan ini mampu mengalihkan kekuatanku pada Mu, ku relakan sejenak hati dan pikiranku untuk mengalah...dengan sengaja ku arahkan konsentrasiku untuk menterjemahkan sosok wanita di ujung sana....wanita itu terduduk di bawah bayangan yang terus menggelapi segala sisi tubuhnya, wajahnya semakin hilang ditelan kegelapan bayang-bayang kerudungnya...misteri ini memicu adrenalinku, degupan jantungku menguat karena rasa penasaranku, entah apa yang membuat wanita ini begitu menggugah hasratku, pesona akan kemisteriannya mengalihkanku dari Ia yang paling mempesonaku....
Rasanya pikiran dengan setiap otot dan syarafku tak mau berkompromi, refleks gerak badanku serasa mendahului perintah otakku, tak kuasa diriku menahan untuk berdiri dan menghampirinya, hatiku tak kuasa menahan pesonanya..mataku tak bisa lepas memandangnya...perlahan kusadari bahwa dirinya menyadari keberadaanku, semakin kudekati, semakin Ia menaruh wajahnya dalam balutan hitam gelap kerudung hitamnya...angin menghantar suara senggukan menahan tangis yang semakin jelas kudengar. Hanya tinggal dua langkah lagi dapat kuraih dia, tapi ada kekuatan yang entah datang darimana yang sepertinya menahanku untuk sampai padanya, maka kuputuskan untuk tidak melanjutkan langkahku, kududuk bersila tepat dua langkah di depannya. Tetap tak bisa kulihat wajahnya. Yang kulihat hanya telapak tangannya yang saling bertemu di ujung lututnya yang terlipat dengan dua kakinya tertindih mengarah ke arah yang sama. Seperti kedua tangan yang ingin menggenggam satu sama lain namun tak bertenaga. Kusadari, dibalik sosoknya yang seakan diselimuti bayang-bayang, kulihat dua buah telapak tangan yang putih bersih, kulit yang masih kencang, kuku-kuku yang terpotong rapih sejajar dengan ujung jari, polos tanpa ada hiasan cincin atau apapun. Jemarinya terlihat lentik dengan susunan jari-jari yang elok dan penuh dengan sentuhan kelembutan, sungguh menggoda untuk menggenggamnya.
Situasi ini sungguh merupakan situasi yang canggung untuk dilakukan pada hari-hari yang normal oleh orang-orang normal dalam situasi yang normal. Seorang pria tak dikenal menghampiri tanpa sebab yang jelas dan duduk tepat berhadapan dengan wanita yang tak dikenalnya juga. Pikiranku sekarang seperti puting beliung yang semakin cepat berputar dan memporakporandakan akal sehatku, tak jelas apa bisa logikaku pikirkan saat ini, ini di luar logikaku, tak sedikitpun kurasakan penolakan darinya, tak ada kurasakan perasaan takutnya kepadaku.
Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada kata yang mampu kuucapkan, bahkan hampir tak sedikitpun oksigen yang kuhirup. Kuyakin ini nyata, tapi tak bisa kucubit pipiku untuk meyakinkannya. Situasi yang sama sekali tak pernah kualami. Tak ada penjelasan yang masuk akal bagiku. Ku bukan dari golongan mereka yang bernafsu untuk meperkasih wanita, ku bukan dari golongan mereka yang ingin menikmati seks setiap saat, ku patuh pada Tuhanku, kuhargai nasihat kedua orangtuaku, dan ku tak mau jatuh karena wanita. Bahkan tak bisa sedikitpun wajahmu kulihat, samar bisa kulihat bentuk badanmu, tak kulihat kecantikanmu, tak bisa kusimpulkan keseksianmu, jadi tak mungkin kutertarik padamu, kau hanya kuanggap misteri, tapi juga kenapa penasaran ini membawaku kepadamu, tak pernah ku tergoda oleh misteri kecuali misteri Tuhanku.
Mendadak putingbeliung pikiranku mereda perlahan seiring redupan isakan tangisnya dan tengadahan wajahnya yang perlahan. Degupan jantungku pun mereda, yang merupakan hal aneh dimana senormalnya justru jantung ini berdegup semakin kencang karena akan ada peristiwa yang menjadi jawaban sedikit penasaranku. Ketenangan mulai terasa disekitarnya, tirai bayangan sedikit-demi sedikit terbuka, cahaya mulai menyinari tubuhnya, pakaiannya yang serba hitam seakan memutih oleh sinar surya. Seketika saat wajahnya sudah mulai memenuhi pandanganku, penglihatanku tersilaukan oleh cahaya kehidupan bumi ini yang melesat langsung ke arahku, seketika kualihkan pandanganku darinya untuk menghindari dampak UV light kepada indera penglihatanku. Seketika setelahnya, kusadari ia tak lagi dihadapanku....kemana dia...kutatapi setiap jengkal sudut ruangan tempat kuberada, kuputar badanku hingga 360 derajat, tak kutemukan....secepat itu dia menghilang, atau selama itukah aku memalingkan pandangan??...Kucoba cari keluar...dengan berlari kecil kupastikan untuk melangkah keluar...dengan hamparan cahaya matahari menyambutku diluar, perlahan sinar itu meredup, disaat itu dapat jelas kulihat dirinya berdiri arah jam dua di depanku, kulihat jelas dan terang matanya yang agak besar membulat dengan kelopak yang tersisa pada bagian atas matanya, dengan sedikit ada lekukan yang agak dalam, bola mata berwarna coklat yang jelas terpancar memantulkan sinar matahari, alisnya yang naik sedikit tajam namun tetap menandakan kesenduan, wajahnya agak ouval dengan bagian dagu yang menajam, hidung mancung dengan ujung yang maju menajam, tapi tidak runcing bagian pinggirnya berbayang seperti bershading menajamkan keelokkan kesempurnaannya, bibirnya memiliki bentuk yang tegas, tidak tipis, tapi juga tidak tebal, bagian atas yang sedikit lebih maju dibandingkan yang bawah menambah keseksian sebuah bibir, berbalut kemerahan alami. Kulitnya putih kencang dengan bagian pipi dan dahi bagaikan kehalusan kulit bayi tanpa cacat, sedikit nampak keluar dari balik kerudungnya, kecoklatan rambut yang sepertinya ikal.
Kekakuan meramabhiku sampai kujung jari kakiku seiring mata sendunya yang menatap tajam mataku. Kebekuan itu luntur dengan dilemparkannya senyum kecil yang semakin menegaskan binaran matanya. Perlahan dia menghampiriku, seakan mendahuluiku yang karena tahu aku ingin menghampirinya. Tepat dia berdiri dihadapanku, tingginya tepat sampai pada ujung hidungku, bibirnya mulai bergerak menandakan adanya suara dan kata-kata yang akan terlontar...dengan keras kupikirkan, kuramalkan apa yang akan dia katakan, suara seperti apa yang akan kudengar...."hai" diikuti dengan senyuman yang tidak kalah anggunnya dengan yang sebelumnya....dalam hatiku kubertanya hanya itukah yang ingin dia katakan....wajahnya merubah dengan sedikit kerutan diantara alisnya, wajahnya menyerong 3 derajat kekiri, menandakan seperti rasa penasaran yang berbalik kepadaku. Sambil melempar senyum untuk yang ketiga kalinya, dia langkahkan kakinya menjauhiku, terus dia berjalan semakin jauh hingga sampai pada meter ke 7 dia lontarkan lagi senyuman keempatnya, tanpa kurencanakan, tanpa kuinginkan, kuberucap menyebut keagungan Tuhan, disaat itulah kusadari, sejenak Ia menjadi pengalih fokusku kepada Tuhanku, kusadari tapi tak kurasa ada dosa,.....sebuah pesona pengalih yang dulu kuanggap sebagai pesona jahat yang bisa mengalihkan siapa saja dari Tuhannya, tapi sepertinya tidak kali ini, kuucap keagungan Tuhan setelah bertemu dengannya..kuanggap sebagai anugerah, kuanggap Tuhanlah yang merencanakan ini......dengan senyum yang tertahan bagaikan kambing yang diikat lehernya dari kebebasan, kukembali kepada khayalan diskusiku dengan Tuhan....

Wednesday, April 13, 2011

In a Time of Loneliness

Telah ku putuskan jalan hidupku....kupilih diriku berada di jalan ini, dan kuyakinkan untuk sebuah komitmen, aku yakin...aku yakin...di sinilah tempatku, dan disinilah hidup akan ku tempa.....Dunia yang masih belum banyak dimengerti orang-orang disekitarku. Dunia yang menurut sudut pandang mereka adalah dunia yang berbahaya, beresiko tinggi, tanpa masa depan yang jelas. Masa depan yang aku mengerti sebagai kekayaan tentunya. Ya memang bukan kekayaan harta yang kucari tapi kekayaan akan sebuah ideologi, idealisme, dan perbuatan nyata atas sebuah keyakinan. Kuyakin di sinilah kedewasaanku akan tumbuh, pengalamanku akan terasah, dan setiap pelajaran akan menjadi perjalanan makna akan hidup yang sudah dan akan kujalani. 
Kusadari bahwa kalian menganggap pernyataan itu menjadi hal klise yang seringkali kalian bantah dengan argumen rasionalitas tentang realitas. Kenapa sulit sekali mendapatkan kepercayaan kalian, segitu lemahnyakah diriku di mata kalian??..kenapa tak ada kepercayaan bahkan dari darah dagingku sendiri akan kemampuan yang berdasar pada keyakinan dan komitmen??..dimana dukungan kalian...aku bukan ingin di bantu, aku hanya ingin dipercaya....Kenapa kalian anggap diri ini akan rapuh menghadapi kerasnya realitas hidup, bukankah jalan yang kutempuh juga menjadi realitas hidup, yang dengan amat sangat telah kusadari keberadaannya....
Apa yang akan kujalani bukanlah hal yang benar-benar baru. Bahkan sudah banyak yang menjalaninya bertahun sebelum kelahiran kalian, kalian hanya tidak mau tahu mengenai keberadaan kisah sukses mereka. Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah memasuki usia menuju kedewasaan, aku siap mandiri, dan aku telah yakinkan diriku sendiri untuk menghadapi segala tantangan dan resiko dari apa yang kulakukan.
Dalam setiap langkah yang kulalui, bertambah semangatku, dalam setiap hembusan nafas ada harapanku, dan dalam pandangan mataku terpapar tujuan utama ku,...tapi...kenapa ketika kubuka lebar telinga, semakin kudengar kejatuhanku, kehancuranku, kebodohanku.....suara itu terus mencoba menyendirikanku.... kenapa harus kudengar itu, kenapa bukan dorongan dan dukungan yang kudengar....kenapa harus ada yang beda,..kenapa suara itu harus menjadi lawan pandangan, langkah dan nafasku........
Dalam langkahku kuistirahatkan pikiranku sejenak...kucoba sejenak untuk menyerah.....baiklah, sekarang aku beri waktu untuk sang suara pemberontak...ok..aku ingin melihat maksud ucapanmu..... Di sini ku duduk, kucoba buka mata ini untukmu, kulihat apa yang coba kau ingin perlihatkan,.....APA ITU.....inikah yang selama ini dengan keras kau usahakan kepadaku???...sebuah pandangan kehancuran manusia...apa maksudmu???......sudah lama kubuang jauh pandangan ini, kutinggalkan dalam kotak yang sudah kukubur dalam-dalam di ruang hampa dalam pikiranku.....Usahamu percuma, kau tahu itu...hatiku sudah tak bisa kausentuh...hal-hal yang sudah terstigma dengan sangat dalam ini tak bisa merubah apa-apa....hanya segini kemampuanmu.....hanya ini sebenarnya kekuatanmu, suara yang kukira hampir meluluhlantahkan hasratku, ternyata hanya mampu memperlihatkan ini.....
Kulanjutkan perjalananku.....tak kuhiraukan lagi suara itu yang sudah meredup dan hilang, ...tapi kenapa???...kenapa lalu pandangan yang lalu itu menjadi hantu yang terlahir kembali???..kenapa dia datang lagi....???.... siapa di balik ini semua...,yang bermaksud terus mengujiku, kemarin pendengaranku, sekarang pikiranku.....apa yang kau mau....kemarin sudah kau coba dan kau gagal...percuma saja kalau hanya itu yang kau ingin tunjukkan...aku tak gentar........To Be Continued...

Monday, April 11, 2011

di kala Hujan


Guyuran air langit kali ini nampak berbeda, sudah kurang lebih tiga hari ini gerombolan zat pembawa kehidupan dan kesuburan ini nampaknya sedang sangat bersemangat menyerbu bumi....dengan pola acak yang susah untuk dimengerti kapan,..sebanyak apa,...dan secepat apa..mereka datang, bagaikan strategi perang yang tak mau di baca oleh musuh,.......apa strategi yang sedang kalian mainkan???....siapakah sosok jenderal perang yang cerdas itu???.....
Kalian datang dengan tanda genderang perang yang kalian bunyikan menderu-deru di pojok langit, kalian tandai awal serangan kalian dengan kilatan cahaya bagaikan sebuah aba-aba berupa kode...apa yang kalian komunikasikan???......berapa banyak pasukan kalian yang nyata tampak seperti tak ada habisnya......???, tak jarang pula kalian susupkan pasukan diantara cahaya sang surya, atau mindik-mindik diantara embun pagi, ....bahkan dengan tanpa rasa kasihan kalian pun tidak segan untuk menyerang habis-habisan di kala kami sedang terlelap.....tak beristirahatkah kalian???.....
Tiga jam sudah berlalu, deruan bunyi hantaman serangan kalian cukup menutupi alunan suara pagi...genderang perang kalian bunyikan semakin keras, seperti sebuah tanda semangat yang tak ada habisnya.....pastinya akan kutunggu hingga semangat kalian hilang.....semangatku tak kan kalah oleh semangat kalian...berapapun jumlah kalian akan kuhadapi....
Aku siap....aku siap....aku siap.....dengan persenjataan yang lengkap, baju pelindung yang cukup kuat, dan kendaraan perang ku, aku siap menerjang diantara pasukan kalian....
aAAAAARRRGGHH......majuuuuu......haduh.....sudah lima kilometer kutembus pasukan kalian, kuberani, kamumampu, pantang mundur...tapi apa daya setiap kalian datang, Jakarta macet,..tak bisa kulaju motor ini lebih kencang, tapi setidaknya helm dan jas hujan ini cukup untuk meredam hantaman pasukan kalian......

Di lampu merah



 
Jakarta, senin 08.00 WIB di tanggal hitam, warung buncit....hampir semua orang pasti memiliki gambaran yang sama tentang keadaan di waktu dan tempat tersebut, terlebih mereka yang sedang berada di situ. Gambaran yang sangat biasa dijumpai dan pasti sudah bisa ditebak oleh siapapun yang ada di jakarta. Kemacetan, ...... bahkan bagi mereka yang seumur hidup tidak pernah keluar dari merauke pun tahu lewat berita televisi maupun koran. Permasalahan yang cenderung hanya dinikmati masyarakat Jakarta namun seakan menjadi masalah nasional.
Fenomena ini pun mungkin bisa menjadi perhatian dari NGO dan LSM lingkungan hidup. Bagi yang setiap hari merasakan tentunya tahu bagaimana rasanya menghirup udara ketika itu. Tak ada oksigen murni yang bisa dihirup, sekalipun berada di dalam kabin mobil dengan kaca tertutup rapat, kecuali mereka yang dengan sengaja memakai tabung oksigen khusus, seperti pasien yang sedang sekarat dalam ambulance. Bayangkan rasanya hirupan nafas yang tercampur asap knalpot, terlebih dari kendaraan berbahan bakar solar, apalagi yang tidak pernah melakukan perawatan rutin. Terkadang pun terasa adanya benda yang lebih padat dari udara terhisap masuk ke dalam hidung, tanpa tahu benda apa itu.
Masker yang dikenakan para pengendara motor pun sepertinya hanya menjadi penghias atau sekedar menghalangi aroma busuk knalpot. Diantara mereka mungkin ada yang tidak mencuci maskernya berhari-hari karena hanya memiliki sebuah, atau bahkan ada yang lupa menggosok giginya pada waktu mandi di pagi hari. Aromanya setidaknya mampu menggantikan aroma busuk knalpot kendaraan. Tapi tidak menjamin tersaringnya oksigen murni ke dalam saluran pernapasannya. Bayangkan keadaan yang lebih parah para polantas, penjaga pintu jalur bus transjakarta (yang kebanyakan orang bilang jalur BUSWAY), penjaja asongan dari mulai permen dan rokok serta tisu, ‘kemoceng’, lap mobil, dan para penjual rasa kasihan, yang hampir setiap detik dalam sisa hidupnya akan terus menghirup CO dan CO2, bahkan mungkin suatu hari mereka malah keracunan menghirup O2.
Dalam kurun waktu yang mungkin hanya sekitar dua jam, kita dapat melihat gambaran umum masyarakat Jakarta. Dari mereka yang dengan senangnya memamerkan salah satu koleksi kendaraan 500jutaan sampai pada mereka yang malu dengan kakinya yang bahkan orang lihat pun enggan. Kalau mau dilihat secara mudahnya, dari satu daerah dalam satu waktu ,warung buncit senin pagi tanggal hitam jam 08.00 WIB, mungkin bisa diambil kesimpulan, orang paling kaya di negeri ini ada di situ dan orang paling ga punya harta juga tidak mau kalah ikut-ikutan datang ke situ. Mungkin kalau dihitung secara probabilita, akan ada kemungkinan mereka berada bersebelahan.
Pagi itu Bapak Asnawi bersama supirnya, Andreas, ikut membantu petugas survey kemacetan Jakarta dengan menjalankan rutinitas sehari-harinya melintasi jalanan warung buncit di jam 08.00 WIB. Sambil menikmati secangkir kopi dan koran KOMPAS, Asnawi lalui pagi harinya di salah satu mobil 700 jutaannnya. “Dre, sudah sampai mana kita??”.tanyanya kepada sang supir tanpa pernah dia melihat ke arah jendela yang sangat jelas bisa menjawab pertanyaannya....”kita sedang berhenti di lampu merah di depan pejaten village pak”...”kenapa berhenti??” tanya asnawi lagi, yang pastinya pertanyaan itu menjadi sia-sia jika Ia mau melongok ke arah jendela di sisi kanan dan kirinya...”lampu di depan sedang menyala berwarna merah pak, merah seperti baju safari saya pak, atau mungkin merah seperti darah pak, dan yang saya tahu kalau lampu di depan itu menyala berwarna merah kita harus berhenti”..jawab si supir. “oh...jangan lama-lama berhentinya ya Dre”...”baik Pak”...sllurruuuppp...asnawi kembali kepada kopi hitam hangatnya.
Tampak dari jendela di sisi kanan Asnawi sebuah motor bebek Matic berwarna hitam dengan ditunggangi dua orang, si pengendara berjenis kelamin laki-laki, dan seorang perempuan duduk tepat dibelakangnya sambil memeluk erat sang pria pembonceng, seakan takut kalau sang pria lari dari genggamannya. Mereka berdua berusia sekitar 25-27 tahun. Si laki-laki bergaya layaknya seorang bikers dengan jaket kulit tebal, celana jeans kuat, sepatu boot hitam, dan helm merk Shoei yang juga berwarna hitam. Si perempuan mengenakan helm dengan tulisan Honda dan SNI dengan kaca helm yang sudah sangat buram karena banyak sekali goresan. Ia mengenakan rok pendek dengan hanya setengah bagian paha putih mulusnya yang tertutup, dengan sepatu ber-hak ia berusaha keras menaruh kakinya pada pijakan kaki pembonceng untuk mencari posisi yang nyaman. Dengan hanya tertutup jaket kain berkapucon, Ia selalu berusaha menghalangi masuknya angin ke tubuhnya dengan berlindung pada sang pria biker. “yang...lihat mobil sebelah deh, kayaknya nyaman ya di dalem, kayaknya adem tuh...si bapak bisa duduk tenang baca koran”...sambil tersenyum, sang lelaki menjawab..”mudah-mudahan ya, nanti juga kita yang ada di situ, sama-sama berdoa aja. Makanya,..kamu dukung kerjaan aku dong..jadi marketing itu kan awalnya pengusaha sukses”......”iya sih yang tapi kan hidup kita nih kayaknya pas-pasan mulu, enakan kalo kamu punya gaji tetap yang pasti, tapi gede...yaaaa...empat juta lah...biar aman” si perempuan menanggapi. “kamu sabar aja ya, .....” sambil tertawa kecil si lelaki melanjutkan omongannya..”emang kamu yakin kalau bahagia itu lewat uang, kalo mau diinget-inget, dulu sampe sekarang pendapatan kita naik terus lho, mungkin sampe satu miliar sebulan juga bakal kurang terus”.....tiba-tiba terjadi keheningan..........”yang...yang....kamu marah ya??”....dan si perempuan mengalihkan pembicaraan.”yang orang di motor sebelah kok ngeliatin ke sini terus ya??”...”bukan..dia nggak lihat ke kita, aku juga perhatiin kok, tadi aku kira dia ngelihat kita, tapi nggak kok...”
Motor honda Revo dengan keadaan kotor, jok sobek, fering pecah-pecah, dengan karung yang sepertinya seberat satu kuintal terduduk di belakang seorang pria dengan helm fullface tanpa kaca, yang mengenakan kaos tim bola lokal berwarna oranye, celana jeans belel biru digulung selutut dan sendal jepit merek terkenal. Pandangannya hampir tidak lepas dari mobil yang dikendarai andreas. “ini nih biang kemacetan, mobil gede begitu dipake dua orang doang, harusnya gue tuh yang make buat angkut sayur. Pake mobil begituan bisa sekali jalan angkut sayur, ga panas lagi. Ga adil emang nih dunia, kalo dipikir-pikir kan gue yang lebih butuh mobil gede begitu. Dia mah cukup pake motor gue aja, orang cuman bedua”...braakkk....”aduh..astagpiruloh...”tiba-tiba terjadi benturan antara mobil yaris berwarna putih dengan honda revo si pembawa sayur.
Dari toyota yaris putih keluar seorang perempuan sekitar usia 22 tahun dengan kaos putih bertuliskan “ZARA” berwarna hitam, tampak samar-samar dibalik baju putih terlihat bra hitam yang menutupi benda berukuran D-cup. Celana jeans yang hipster sedikit turun memperlihatkan belahan pantat tanpa cacat, yang seakan-akan menunjukkan mahasiswi ini tidak bercelana dalam, sejenak ketika turun dari mobil. “aduh neeennggg...ati2 dong, jangan mundur sembarangan”....dengan nada tinggi dan membentak, keluar emosi dari suara serak sang mahasiswi cantik..”EH...YANG GOBLOK TUH LO, GW KAGAK MUNDUR BEGO, JELAS GW PASANG GIGI NETRAL”...sambil sesekali melihat-lihat bumper belakang mobilnya untuk melihat apakah ada kerusakan. “WADUH...LECET LAGI...GIMANA NIH PAK..”...”lha saya mah ga tau neng, orang bukan saya yang nabrak, lagian tuh liat dong neng sayuran saya berantakan semua, yang ada saya juga yang rugi neng”....”LHA KOK BALIK NYALAHIN, COBA TANYA DEH, BANYAK YANG LIAT NIH YANG NABRAK SIAPA”....dari sekeliling terdengar samar-samar pembicaraan orang-orang yang sama sekali tidak jelas membicarakan apa, hanya firasat kalau mereka semua membicarakan dua orang yang sedang emosi ini. Datang pria berseragam coklat dengan masker hitam dan helm putih tanpa kaca pelindung, yang menurut gambaran banyak orang merupakan petugas polisi. “ada apa??” tanya polisi...”ini pak, lagi lampu merah mobil saya ditabrak” jelas mahasiswi....”lha kagak pak yang ada dia tiba-tiba mundur ga jelas”.bela si pembawa sayur..”sekarang liat pak sayuran saya berantakan” tambah si pembawa sayur....perdebatan terus terjadi..lampu lalu lintas pun tidak kunjung menyala hijau..
Dari dalam mobil asnawi. “ada orang ribut di luar pak”..”oh ya...kenapa tuh??”....”kurang tahu juga pak...” ...”udah lah dre kamu fokus aja sama jalan, ngomong-ngomong udah di mana nih kita??”..”masih di lampu merah pak” ...”emang warung buncit ini banyak sekali lampu merah ya dre..”...
“yang...kenapa tuh??”...”ga tau deh, kayaknya motor sebelah jatoh..”...”kenapa bisa jatoh yang??”....”kurang tahu juga, dari tadi kan kita ngobrol, emang tadi sempet denger suara tabrakan, kayaknya sih motor yang nabrak”...”sepatu cewe itu bagus deh yang, aku pernah liat tuh di senayan city, waktu itu lagi diskon 50%, tapi harganya dua ratus ribu”....
“begini aja deh pak...mbak...kepinggir aja dulu, takutnya sebentar lagi lampu hijaunya nyala, biar tidak mengganggu kendaraan lain”....”tapi pak saya telat kuliah nih”...”lha sayuran saya gimana pak”...”nanti dibicarakan setelah semua kepinggir ya. Sekarang coba beresin dulu sayurannya biar nggak ganggu jalan ya pak, ayo mbak minggir dulu”...
Mahasiswi balik ke mobilnya, sayuran berhasil terangkut kembali, lampu hijau pun menyala, semua kendaraan langsung memberi klakson kepada kendaraan di depannya sebagai tanda untuk segera jalan. Kembalilah polisi ke perempatan jalan. Tak ada masalah yang selesai, motor sayur belok ke kanan, yaris melesat ngebut lurus dengan bermanuver menyelip dan meyalip hampir semua kendaraan di depannya, dan mobil yang dikendarai andreas hanya mampu berjalan sekitar 7 meter untuk kemudian berhenti lagi, karena kendaraan di depan juga tidak bisa jalan karena kepadatan di depan, meskipun lampu masih menyala hijau.