Monday, May 2, 2011

Berkaca

    Pernah suatu hari berada dalam percakapan santai di suatu tempat yang meyantaikan. Bersama mereka yang dikenal sebagai teman. Obrolan kala itu selalu mengundang gelak tawa ria yang ampuh untuk sejenak menjadi senjata penghilang kepenatan pekerjaan. Banyak hal dibicarakan untuk kemudian disahutkan untuk ditertawakan. Sampai pada suatu titik, dimana tawa itu terundang oleh kejelekan tentang seseorang, tentang kekurangan seseorang, atau tentang nasib sial seseorang. Orang yang dibicarakan itu termasuk juga orang-orang dalam komunitas pertemanan yang ada di situ, namun lebih banyak pembicaraan tentang orang-orang yang sedang tidak berada dalam komunitas itu, dan bisa saja hanya mereka yang sedang lewat. Cukup menyenangkan memang ketika bisa menemukan senjata ampuh berpeluru cemoohan. Tapi lama kelamaan, sisi negatif yang menjadi pembicaraan itu berubah menjadi gosip dan penghinaan yang berujung pada ekspresi kebencian. Dari semua kritikan yang terlontar, tak ada satupun yang mengarah kepada kami yang berada di situ. Tak ada tawa lagi yang berkibar, hanya senyuman sinis yang berkobar. Kenapa situasi ini bisa berubah sedemikian drastisnya, kesenangan itu kenapa dibawa pada hal yang seperti ini, dan siapa yang pertama mengarahkannya, kenapa semuanya ikut membonceng???...
    Situasi seperti itu tidak terlalu enak jika dirasakan terlalu lama. Seperti ada ketidakadlian di situ. Jika tadi cemoohan yang menghantarkan pada tawa lebih terasa sebagai angin lalu yang membawa kesenangan yang ternyata cepat berlalu juga, tapi kenapa cemoohan yang kemudian ini menjadi dogma yang melekat untuk kemudian ikut memberikan kebencian pada orang yang dimaksud. Walaupun memang apa yang menjadi pembicaraan itu merupakan kenyataan yang sangat terasa dipancarakan orang-orang terhina itu. Tapi apakah mereka yang berbicara ini telah sesempurna itu??, apakah kesempurnaan mereka melebihi orang yang dibicarakan??...Yang kutahu, kalau ditanya tentang kejelakan mereka yang ada di situ pada saat itu, ku bisa sebutkan satu-satu, begitu juga sebaliknya oleh mereka tentang diriku, dan oleh mereka terhadap mereka masing-masing. Apakah kemudian yang menjadi kekurangan para orang-orang terhina itu memang sudah sulit untuk diterima, padahal di tempat lain mereka itu bisa diterima dengan baik.
    Situasi kemudian kembali mengalami perubahan ketika orang-orang yang dibicarakan adalah pasangan dari masing-masing kita oleh pasangannya masing-masing, kecuali tiga orang termasuk saya. Dari tiga orang yang tidak ikut membicarakan kejelekan dan kelemahan pasangannya, mulai tidak menyukai arah pembicaraan kala itu. Ia kemudian mengatakan tentang bagaimana mereka yang menjelekkan pasangan mereka itu di mata pasangan mereka, sudah sesempurna itukah. Ia juga bertanya mengenai pernahkah mereka itu berpikir bahwa ketika mereka mengutarakan itu dengan kesinisan, dan di tempat lain di bagian kota ini ada pasangan mereka yang juga dengan kesinisan yang melebihi mereka mengungkapkan segala keburukan mereka. Semua terdiam, Ia melanjutkan mengatakan tentang kami yang tidak memiliki kesempurnaan yang pasti memiliki sisi negatif dari sudut pandang orang lain, dan Ia pun mengutarakan satu persatu sisi negatif kami di matanya. Dari mereka ada yang bisa menerima itu, tapi ada juga yang tidak. Ia pun menyadarkan bahwa boleh tidak terima, tapi coba rasakan kalau kejelekannya itu telah dibicarakan dibelakangnya, dan ternyata memang demikian. Ketika salah satu dari kami tidak ada, maka kejelekan kami pasti menjadi salah satu topik pembicaraan, dari yang mengundang tawa hingga kesinisan seperti yang telah terjadi sebelumnya tadi.
    Cukup menjadi pengalaman untuk terus belajar berkaca diri ketika ingin mengutarakan sisi negatif orang lain. Mungkin memang sisi negatif kita berbeda dengan orang yang sering dibicarakan oleh kita, namun tetap bahwa setiap kita memiliki sisi negatif di mata orang lain, dan pastinya itu akan menjadi hal yang tidak kita sukai ketika kita sadari bahwa sisi negatif kita menjadi pembicaraan untuk cemoohan dan kebencian terutama jika terjadi dibelakang kita.

Sunday, May 1, 2011

Pelajaran Bambu (1): Akar di Tanah Keyakinan

    Bambu, hanyalah seorang biasa yang hidup dalam lingkungan yang juga sangat biasa. Ia tinggal disebuah kamar kos yang hanya seluas 2x3 meter. Di lingkungannya Ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, ramah, dan penuh kesantunan. Setiap tutur katanya selalu dapat dipercaya. Tak pernah ada satu kebohongan pun yang pernah terdengar terucap dari mulutnya. Sebagai contoh, misalnya dalam hal membayar makanan di warteg. Setiap warteg prasmanan yang didatanginya tahu persis bahwa Ia selalu membayar apa yang telah dimakannya. Tidak seperti kebanyakan orang disitu yang sering menyembunyikan makanan di bawah segunung nasi agar nanti ketika ingin membayar makanan yang disembunyikan itu tidak masuk hitungan karena tidak terpantau oleh pemilik warung. Bahkan dalam suatu waktu, pemilik warteg yang sudah sangat rabun itu salah memberikan uang kembalian sepuluh ribu dengan seratus ribu. Tidak menunggu untuk berpikir, sesaat setelah menyadari kesalahan sang Ibu warteg tersebut, Bambu dengan sigapnya langsung mengembalikan uang seratus ribu itu dan meminta untuk menukarnya, dan tentunya dengan membantu sang pemilik warteg renta itu untuk mengambil pecahan uang yang tepat. Sebagai seorang pendatang yang juga sifatnya sementara, keramahan dan kesantunan perilakunya sangat membantunya untuk bisa beradaptasi. Hampir semua penghuni di lingkungan itu pernah merasakan manis senyumnya, yang membuat banyak orang malu untuk tidak membalas senyumannya. Jabatan tangan selalu menghiasi setiap perjumpaan dan perpisahan dengannya. Ia meyakini bahwa dibalik jabatan tangan itu terdapat dosa-dosa yang beruntuhan.
    Selain kebaikannya, Bambu juga dikenal sebagai orang alim. Keteguhannya dalam beriman, Ia tunjukkan dengan begitu rajinnya Ia melakukan sholat lima waktu. Surau yang berjarak 55 langkah dari kamar kosnya, selalu disambanginya ketika waktu sholat telah tiba. Setiap jemaah yang hadir pun ikut menjadi saksi dari kekhusukan haturan doa Bambu kepada Tuhannya. Tak jarang Bambu untuk diminta menjadi Imam Sholat, meskipun Bambu sangat menyadari kelemahan dirinya tentang hapalan surat AlQuran yang tidak sebaik mayoritas jemaah di surau yang tidak terlalu nyaman jika diisi hingga 40 jemaah sholat itu. Keyakinan yang coba Ia pegang teguh itu, dimantabkannya dengan asupan ilmu yang banyak diperolehnya dari ulama dan jemaah di surau itu. Ia tak pernah sungkan untuk mempertanyakan mengani banyak hal yang terkait imannya. Mereka yang kebagian menjadi narasumber pun akan dengan senang hati memberikan jawaban sesuai kemampuannya kepada Ia yang memang pancaran wajahnya mensiratkan kemantaban untuk menambah ilmu yang menyokong keyakinannya. Salah seorang narasumber favorit Bambu ialah Pak Amir, seorang pensiunan PNS golongan 2B, yang mempesona Bambu dengan kebijaksanaannya dalam menyampaikan ilmu. Tidak ada yang dilebih-lebihkan dan tidak ada yang dikurangi, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang berlebihan maupun negatif.
    Sebagai makhluk sosial, kehidupan sehari-harinya Ia jalani dengan menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang multinasional, sebagai seorang Legal Officer. Dilihat dari gaji pokok yang diterimanya setiap bulan, cukup untuk menunjukkan kemapanan Pria yang bulan depan menjajaki usianya yang ke 30 dalam statusnya yang masih single. Kantor tempatnya mencari nafkah hanya berjarak sekitar 105 meter dari tempat kosnya., yang gedungnya nampak sangat jelas dari jendela setiap kamar di rumah kos-kosannya itu Setiap hari Ia cukup berjalan kaki untuk sampai di sana. Sebagai seorang muslim yang taat, Ia selalu menganggap pekerjaannya itu sebagai ibadah kepada Tuhannya. Tak pernah Ia lupa untuk menyebut nama Tuhannya yang dipujinya sebagai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dalam memulai langkah menuju kantor, yang Ia percaya dan harapkan bahwa dalam setiap langkahnya dari berangkat hingga pulang nanti ada nilai ibadah dan selalu terlindung dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Tuhannya.
    Sebagai Legal Officer Ia terbiasa untuk bekerja dalam tim. Pekerjaannya menuntut untuk senantiasa dapat berpikir bijak. Tak ada perdebatan yang senang Ia jalani, dan diskusi lah yang selalu menjadi arah interaksinya ketika bekerja. Keramahan dan kesopanannya yang berhasil diterapkan dilingkungan tempat Ia tinggal sekarang, tak demikian di tempat kerjanya. Ketika, dan hampir selalu, pekerjaan yang datang begitu banyak, sulit sekali untuk bisa mempraktekkan sebuah kesantunan. Bukannya tidak bisa, hanya saja tidak memberikan pengaruh sama sekali kepada lawan bicaranya. Tapi Bambu tetaplah Bambu, muka kusut, omongan yang keras disertai kata-kata yang kurang baik, selalu dibalasnya dengan senyum. Niat bekerja sebagai ibadah serta doa perlindungan oleh Tuhannya, nampaknya mampu untuk mepersenjatai Bambu menghadapi lingkungan kerjanya yang hectic. Satu hal kebijaksanaan yang diingatkan oleh Pak Amir, bahwa dalam situasi kerja yang seperti itu bukan berarti keberadaan kesantunan dan kealiman seorang Bambu menjadi hal yang tidak diinginkan. Hanya saja tidak ada akar sekuat Bambu untuk menopang mereka dari hantaman angin pembawa ketegangan. Meskipun atasannya tak pernah bisa berbicara lembut ketika di kantor, atau bahkan jarang sekali raut muka kebahagiaan yang terpancar dari para rekan kerjanya, namun Bambu tetap mendapat posisi yang baik diantara mereka. Bahkan penghargaan terhadap Bambu oleh perusahaan itu, yang tentu karena hasil kinerjanya, terlihat dari besaran gaji yang Ia terima sedikit lebih besar dari rekan-rekan dalam posisi yang sama, sekalipun itu lebih senior. Dengan mengingat hal-hal itu, dan tentunya juga mengingat Tuhannya, Bambu dapat terus bertahan. Bahwa selalu ada hal yang dapat disyukuri dari setiap kejadian, seburuk apapun situasi yang dihadapi, selalu ada sisi positif yang tampak, dan itulah api semangat yang masih tersisa.
    Sebagai penghuni kota Metropolitan, kehidupan glamor dan dunia gemerlap kota besar, tidak menjadi hal yang asing di mata seorang Bambu. Setiap akhir minggu, teman-temannya selalu mengajak untuk menghibur diri. Wajar dianggapnya, bagi mereka yang lima hari penuh menjalani kepenatan pekerjaan dan hiruk pikuk kestresan kota besar, untuk mencari waktu melepaskan ketegangan otot-otot di otak mereka. Tapi tak semua hal yang dianggap hiburan oleh teman-temannya, mendapat persepsi yang sama di mata Bambu. Bambu selalu beranggapan bahwa setiap tindak-tanduk perilaku sehari-hari seorang manusia haruslah mengarah pada nilai ibadah, yang dijalankan dengan takwa, menghindari setiap hal yang dilarang oleh Tuhan. Mayoritas hiburan yang ditawarkan kepadanya, tidak dianggapnya sebagai nilai ibadah, karena menurutnya terlalu banyak resiko untuk kemaksiatan, meskipun Ia yakini tidak akan terpengaruh sekalipun masuk ke dalamnya, namun agar tidak tersentuh sedikitpun godaan, Ia berpikir lebih baik menghindarinya. Ia tidak segan sedikit pun untuk menolak ajakan teman-temannya jika itu tidak sesuai, tentunya penolakan itu dilakukan ala seorang Bambu, tetap dengan tutur kata yang santun dan lontaran senyum manis. Tak jarang penolakannya itu disambut dengan wajah kusut teman-temannya. Semakin kusut wajah lawan bicaranya, semakin lebar senyum yang dilemparnya. Tapi tidak jarang pula teman-temannya mengalah kepada Bambu, dan pencarian hiburan mereka berakhir tempat-tempat makan atau hanya sekedar ngopi-ngopi. Tak sedikit dari teman-temannya kesal dengan sifat Bambu, namun Bambu tetaplah Bambu, Ia tidak begitu memikirkannya. Ia tidak pernah takut kehilangan teman, jika dengan berteman justru membawanya menjauhi Tuhannya. Tuhan yang diyakininya selalu Ia posisikan dalam puncak kemenangan di hatinya, nomor dua adalah orang tuanya.
    Suatu hari tercipta keadaan yang sama sekali tidak Ia duga. Bukanlah menjadi situasi yang biasa di lingkungannya. Malam sehabis sholat Isya di hari minggu, tiba-tiba saja surau tempat Ia sholat berjamaah diserang oleh sekelompok orang dengan pakaian muslim serba putih, peci, dan rompi hijau yang bertuliskan sebuah nama kelompok tertentu, serta tak ada tangan kanan yang kosong diantara mereka. Balok, golok, parang, hingga batu bata, melekat erat ditangan masing-masing orang dalam kelompok penyerang tersebut. Sambil berteriak menyebut nama Tuhan, yang sangat mengagetkan Bambu, salah seorang dari kelompok itu, dengan sorot mata yang tajam, kerutan pada dahi dan hidung, alis yang naik tajam, bibir yang terbuka lebar disertai bau mulut yang tidak sedap, menghantamkan sepotong balok kayu ke arah kepala Bambu. Seketika Bambu terbaring lemas di atas sajadahnya. Sambil mengucap-ucap nama Tuhannya, tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung betisnya menerima hantaman dari berbagai macam benda keras. Kesakitan yang amat sangat tak bisa dihindari. Bahkan Ia masih sempat berpikir, dari sekian banyak pukulan yang diterimanya, Ia masih bisa tetap sadar. Ia masih bisa menengokkan kepalanya sedikti ke atas, sekilas melihat Pak Amir yang terkapar kaku tapi masih saja dihantam dengan balok dan batu. Tubuh rentanya tak sanggup menerima kekerasan yang begitu kejam seperti itu, darah terlihat mengalir dari hidung, mulut, tangan, dan kakinya. Sampai pada suatu saat, orang-orang itu berhenti dan lari tanpa arah, mereka lari ke segala arah, tapi seperti bukan karena sedang diburu oleh sesuatu, lebih pada untuk menghilangkan jejak. 
    Bambu terbangun dengan lemas, tangan dan kakinya gemetar kuat menyangga tubuh yang dia usahakan untuk bangit. Dengan merangkan Ia hampiri tubuh Pak Amir, Ia raba hidungnya, lehernya, dan pergelangan tangannya, dan Ia bersyukur Pak Amir masih hidup. Beberapa orang lantas masuk dengan berlari. Mereka adalah warga sekitar yang kemudian memberikan pertolongan kepada para jemaah sholat yang terkapar. Tak ada satupun jemaah sholat Isya kala itu yang sempat melarikan diri. Sekitar 30 jemaah saat itu, semuanya terkapar bahkan hingga di luar surau. Salah seorang warga itu mengangkat Bambu dan mendudukannya di sudut surau. Ia berikan Bambu segelas air putih dingin, sambil mengelus-elus punggung Bambu tanda menenangkan. Sambil meminum air pemberian itu, Bambu diceritakan tentang sebab musabab penyerangan yang terjadi, sambil sedikit terkaget Bambu mengerutkan dahinya. Betapa kagetnya Ia, kalau ternyata penyerangan itu dilakukan karena jemaah sholat di surau itu dituduh sebagai pemeluk Islam yang sesat. Pria yang sedang duduk tepat dihadapan Bambu, yang kemudian mengerutkan dahi tanda bertanya-tanya, melihat senyuman cerah yang terpancar di wajah Bambu. Pria itu bertanya-tanya tentang wajah Bambu yang sama sekali tidak menunjukkan kebencian, dendam, ataupun amarah karena telah dituduh sebagai aliran sesat. Untuk melepas rasa penasarannya, pria itu pun mempertanyakan perihal senyum seorang Bambu. Tepat setelah bunyi tegukan terakhir air dalam gelas, Bambu mengatakan bahwa Rasulullah dulu ketika berdakwah juga mengalami hal yang sama, Beliau dituduh sebagai penyihir, sebagai pembawa aliran sesat yang membahayakan umat. 
"Penyerang tadi menyebut nama Tuhan yang sama dengan ku, begitupula kaum Quraisy jahiliyah yang dianggap tidak beriman kala itu jka ditanya siapa Tuhanmu, mereka akan menjawab dengan nama Tuhan yang sama dengan Rasulku Muhammad. Kau bisa lihat, Rasulku tidak pernah dendam kepada mereka yang menyiksanya dan menjauhkannya dari keluarganya. Rasulullah tetap sanggup melontar senyum kepada mereka, karena Rasul tahu mengenai kebenaran Allah. Beliau tahu sebenar-benarnya ajaran Allah. Rasulullah diturunkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, bukan sebagai prajurit pembawa pedang yang siap menghunuskan pedangnya ke setiap jantung mereka yang tak beriman. Jadi yang mereka lakukan tadi tidak mencerminkan ajaran Allah yang telah disampaikan Jibril kepada Rasulku. Jika Rasulku selalu menjadi orang yang sabar, aku sebagai pengikutnya tentu akan berusaha keras seperti itu." Dilanjutkan kembali dengan senyuman lebar dari bibirnya, yang dibalas juga oleh pria tadi.
    Sudah sebulan lewat, dari kejadian penyerangan terhadap surau Bambu, tak ada tanda-tanda akan kedatangan mereka kembali. Warga sudah dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan tenang. Demikian juga dengan Bambu. Sampai pada suatu malam selesai sholat Isya, tak sengaja Ia melihat seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengan arah tujuan Bambu. Wanita itu mengenakan TankTop berwarna merah dengan tonjolan yang menggunung bulat penuh di bagian dadanya, sehingga mengangkat bagian depan Tanktopnya dan memperlihatkan sedikit kulit mulus dibagian perutnya. Celana hotpants berbahan jeans berwarna hitam yang panjangya hanya sepersembilan pahanya, memberikan fantasi bagi para sexfreak untuk menghayalkan bagian tubuh dibalik celana, yang semakin memperlihatkan kaki berkulit mulus dan jenjang wanita itu. Rambutnya lurus agak bergelombang dengan poni yang diarahkan menyamping ke kanan, bagian belakang rambutnya yang nampak kunciran yang dibuat seperti asal-asalan dengan kuncir rambut dan jepit rambut. Dan yang sangat menarik perhatian adalah tato yang berbentuk tulisan, yang membuat setiap orang penasaran untuk membacanya. Tato itu berada pada sekitar 5cm dan 45 derajat tepat dari arah belahan payudaranya, yang terdapat tahi lalat diujung sebelah kanan belahan payudaranya itu. Wajahnya oval dengan sudut yang menajam ke arah dagu, dengan ekspresi yang agak jutek dan dingin, namun terpancar aura intelektualitas dari otaknya. 
    Sesaat Bambu memalingkan wajahnya dari wanita itu seraya berkedip dan berucap "astaghfirullah", Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Warteg langganannya. Sepanjang jalan, gambaran wanita yang barusan dipandanginya tak bisa hilang. Sampai-sampai Ia gelengkan kepalanya berkali-kali tanda ingin menghilangkan memori itu. Bahkan hingga selesai makan, gambaran itu terus menghantuinya. Sesampainya Ia kembali ke kamar kosnya, seperti ada rasa tidak tahan untuk segera meneceritakan tentang wanita itu kepada teman-teman satu kosnya. Ia lantas melompat ke atas kasur dan duduk bersila. Ia tengadahkan tangannya sejajar dengan dadanya dan berdoa pada Tuhan agar selalu diberi perlindungan, diberi kekuatan sabar, dan tahan akan godaan. Berulang-ulang kalimat yang sama dia haturkan dalam doanya, dan masih saja gambaran wanita itu menghantuinya. Karena masih tidak bisa tenang, dengan segera Ia bergegas mendatangi kediaman Pak Amir, sang guru keyakinannya. Sesampainya di sana, Ia langsung disambut oleh Pak Amir, dan tanpa basa basi, tanpa menunggu dipersilakan duduk, serta membiarkan diri berdiri di depan pintu, Ia ceritakan perihal masalahnya kepada Pak Amir. Tanpa ada satu katapun yang terucap dari mulut Pak Amir, beliau seketika tertawa terbahak-bahak. Bambu menjadi semakin bingung, matanya membelalak, bibirnya tak bisa ditutup rapat, dan dahinya berkerut.
"Hei, bambu.....kau tahu maksudnya kan??"...Pak Amir berkata sembari mengeluarkan tawa kecil yang tersisa. "....Bambu semakin mengerutkan dahinya tanda semakin penasaran. "Usiamu sudah 30 saat ini, tapi kau belum punya calon pasangan hidupmu. Kita manusia itu diciptakan berpasangan, kau sebagai laki-laki punya pasangan seorang perempuan. Tandanya saat ini kau sudah butuh wanita..."...Pak Amir lanjutkan tawa riangnya. Bambu hanya bisa tersenyum nyinyir. 
    Obrolan malam itu berlanjut di teras rumah Pak Amir yang hanya sebesar tipe 21 dengan ditemani secangkir kopi hangat. Situasi yang hangat itu mendadak berubah, wanita yang tadi diceritakan oleh Bambu kepada Pak Amir seketika itu mendatangi Pak Amir dan mencium tangannya. Pandangan mata dan ekspresi wajah Bambu tak bisa dibohongi, dan membukan semuanya kepada Pak Amir, sesaat Pak Amir menyadari kalau wanita yang tadi diceritakan oleh Bambu kepadanya adalah keponakannya yang baru menyelesaikan studi S2 nya di Amerika dan baru saja diterima untuk bekerja di kantor yang berjarak 2 lantai di bawah kantor Bambu. Tak pelak, Pak Amir segera memperkenalkan keponakan dari kakak kandung istrinya itu kepada Bambu, namanya Jasmine. Tak bisa Bambu rahasiakan kebahagiaan yang terpancar dari merah pipi dan senyum lebarnya. Balasan senyum dari Jasmine menyertai langkahnya menuju ke dalam rumah. Bambu pun melanjutkan obrolan dengan Pak Amir. Bambu banyak bertanya tentang Jasmine kepada Pak Amir, sekalipun Ia masih berusaha menyembunyikan siapa sebenarnya wanita yang diceritakan tadi kepada Pak Amir. Meskipun tahu, namun Pak Amir tetap bertingkah kalau wanita yang diceritakan Bambu tadi bukanlah Jasmine, keponakannya. Obrolan itu sampai pada pertanyaan bambu tentang cara berpakaian Jasmine dan tato yang melekat ditubuhnya. Jawaban Pak Amir agak sedikit mengejutkan untuk Bambu. Pak Amir ternyata seorang mualaf, yang bersama-sama istrinya baru masuk Islam 10 tahun lalu. Jadi Jasmine memiliki perbedaan keyakinan dengan Pak Amir dan istri saat ini. Keyakinan yang dipeluk oleh Jasmine tidak melarang untuk membuka aurat dan bertato. Pak Amir pun menceritakan tentang keluarga besarnya dan keluarga besar istrinya yang penuh perbedaan. Setidaknya terdapat 5 keyakinan yang berbeda dalam keluarga mereka. Namun mereka dapat hidup rukun dan berdampingan tanpa pernah sekalipun timbul konflik karena sebab perbedaan keyakinan. Memang terkadang nilai-nilai Islam coba diterapkan oleh Pak Amir di keluarganya, tapi yang sifatnya lebih umum, seperti cara berpakaian, cara makan, dan hormat kepada orang tua. Namun penerapan nilai-nilai keislaman tersebut tidak kemudian mendapat tentangan, mereka tetap menghargai dan menerima keadaan dimana terdapat perbedaan. Bahkan ketiak Pak Amir dan istri pindah agama pun mendapat dukungan dari semuanya. 
    Kisah Pak Amir mengingatkan Bambu pada keuarga besarnya. Keluarga besarnya juga memiliki kemajemukan seperti halnya keluarga Pak Amir. Namun sayangnya konflik yang disebabkan darinya sangat besar. Karena masing-masing mereka saling memaksakan ajaran agamanya, tapi tidak dengan Bambu, Ayah dan Ibunya, yang tidak mau memaksakan siapapun dan juga tidak mempan dipaksa. Itulah kenapa orang tua Bambu memberikan nama itu kepadanya, Bambu Teguh. Orang tuanya memiliki harapan anaknya akan menjadi manusia yang teguh pendirian, tetap kuat, dan berpegang pada akar yang kuat, namun tetap bisa bergerak bebas tanpa harus melepaskan diri dari apa yang telah menjadi akarnya. Seperti Pohon Bambu yang tertanam dengan akar yang kokoh namun ranting-rantingnya lentur, yang bisa bergerak bebas mengikuti arah angin, tanpa harus melepaskan diri dari tanah tempatnya berdiam diri. Dan itulah Bambu, keyakinan dan prinsipnya Ia tanam kuat-kuat mengakar ke dalam tanah di mana Ia yakin Tuhan telah menempatkannya, namun Ia dapat hidup dimana saja dengan dari segala arah angin cobaan yang menerpanya. Ia selalu mampu untuk fleksibel, tapi Ia tak pernah melepaskan diri dari tanah keimanannya. 
    Menjadi manusia tidak harus mengikuti zaman dan tren untuk tidak dianggap aneh, dan tidak perlu takut untuk memiliki prinsip yang mengakar kuat karena fleksibilitas itu bisa dilakukan tanpa harus melepskan sedikitpun prinsip dan keyakinan dimana kita berpegangan.
   

Fenomena Langka di sebuah foodcourt.....

Ada tiga orang yang saling bersahabat yang berdebat tentang penyebab Kemacetan, A seorang pengendara motor, B pengendara mobil, C pengguna angkutan umum:

A: Gila macet banget tadi di jalan...taik banget dah orang2 yang pada pake mobil, menuh2in jalan aja...udah tau bakalan macet, masih aja pada pake mobil
B: eh, yang bikin macet tuh motor, liat dong jumlahnya, kelakuan juga ga keruan...lawan arah lagi...
A: bikin macet gimana, orang kendaraan kecil begitu, ga ada sepersepuluh dr jalan kali....
B: iya tapi kalo diitung jumlahnya, menuhin seluruh jalan, sama aja....belom gara2 kelakuan ga keruan, bikin kendaraan laen pada jalan pelan-pelan banget biar ga keserempet....
A: orang yang naek mobil aja ga mo ngerti...kita tuh pada naek motor biar ga buang2 waktu di jalan, gara2 mobil yang bikin macet...
C: eh gw bingung deh sama orang2 yang udah kenal banget sm jakarta yg macet, tp masih aja nyiksa diri nyicil beli kendaraan, apalagi yang gajinya pas-pasan banget....
A dan B: eh sori....ga kayak gitu...
C: kenapa lo jadi pada berasa ya, gw ga ngomongin lo bedua kok....
A: gw nyicil motor tau diri kok, gaji gw udah banyak sisa diluar cicilan...
B: gw juga...
C: eh ...kira2 jalanan di jakarta sebegininya tuh dari taun berapa ya, ya walopun dr dulu emang macet, tp sekarang2 kan parah banget tuh....kira2 dr kapan ya...kayaknya dulu pas masih kuliah tahun 2000 awal, mampang deh misalnya, masih bisa ngerasain lancar siang-siang...
A: ya kira2 abis taun2 segitu kali ya...
B: iya tuh kayaknya....
C: cuy motor lo taun berapa???
A: kenapa??,...tahun 2009
C: kalo mobil lo??...
A: 2005
C: berarti lo pada beli kendaraan pas udah masuk masa2 jakarta parah banget macetnya ya....
A dan B: trus...
C: ya coba aja lo pikir....udah tau kemacetan makin parah, masih aja pada beli kendaraan...lo ga bisa kalo pada nyalahin orang yg pake mobil apalagi yang dari tahun 90an...mereka udah punya duluan....lo juga ga bisa nyalahin motor, apalagi yang udah pada beli duluan sebelum sekarang ngejamur......intinya kalo ga suka ama macet, ya jangan jadi orang yang nambah kemacetan dengan nambahin kendaraan yang beredar dijalanan jakarta. kalo cuma didebatin terus ujung2nya nyalah2in doang......naek motor sekarang kena macet, naek mobil juga, apa bedanya sm naek angkutan....kalo ga naek kereta, ...
A: ya nggak lah....males gw penuh2an.....
C: ya kalo gw sih bisa tidur sambil ngerasain penuh2an di bis atau kereta, tanpa harus cape mikirin penuh2an di jalan...biar dapet duduk ya gw dateng ke terminal atau stasiun lebih pagi...gitu aja...lo bedua kan juga sebenernya ngerasain penuh2an juga, cape pula, pegel, stres, ga bisa sambil tidur.....
A: apa gw juga berangkat lebih pagi lagi aja ya...jam 5 gitu...
C: terserah...bisa aja..daripada ngeluh sambil nyalahin orang yg juga nyalahin lo....
B: bangun ga tuh gw ya jam segitu...
C: ya itu urusan lo sih..... 

Saturday, April 30, 2011

Hidup dalam Ke Abu-Abu-an

Setiap orang yang telah mampu untuk berbicara, mengutarakan pendapat, dan bahkan telah sanggup memfungsikan akalnya, tentunya sadar bahwa kehidupan mereka selalu diiringi aturan-aturan yang memberikan batasan-batasan pergerakan bahkan pemikiran. Secara umum, batasan-batasan itu mulai kita kenal sebagai sebuah moralitas dan nilai-nilai, yang coba ditanamkan pada diri setiap orang dimanapun berada, sekalipun mereka yang hidup di hutan belantara. Sungguh sangat dirasakan bagaimana nilai-nilai itu memperkenalkan kita pada hal-hal yang antara satu dan lainnya saling bertolak belakang, seperti benar dan salah, serta baik dan buruk. Pada perkembangannya, nilai-nilai tersebut pun menjadikan kita seorang penilai.
Ketika manusia masih tersebar terlalu jauh dimuka bumi ini, dan belum ada kemudahan interaksi antara satu dan lainnya, sangat mudah untuk mempertahankan nilai-nilai yang berlaku dalam satu komunitas. Dimana nilai-nilai itu sampai pada tahap dianggap sebagai yang universal, berlaku untuk semuanya. Sampai pada satu momentum dimana interaksi antar manusia dimuka bumi ini terbuka lebar. Terjadilah benturan antar nilai. Tak sedikit benturan itu yang melahirkan asimilasi, antara yang satu dengan yang lain saling mengisi. Tapi tak sedikit pula yang benturannya berakibat kepada perseteruan. Timbul perasaan bahwa nilai yang dipegang adalah yang paling benar. Muncullah kefanatikan. 

Perkembangan kehidupan untuk selanjutnya pun tidak pernah terlepas dari nilai-nilai itu. Beberapa dari umat manusia mencoba untuk mencari sebuah titik universal antar nilai. Namun tetap, pembauran nilai-nilai tak bisa dihindarkan. Percampuran antar nilai telah memberikan pengaruh dari setiap nilai-nilai yang kita pegang. Bahkan terkadang disadari bahwa kita tidak bisa bereda dalam satu tatanan nilai tertentu. Diperlukan adanya pengetahuan tentang nilai-nilai lainnya untuk memberikan penghormatan dan penghargaan agar dapat hidup berdampingan. Di situlah saatnya dimana pada akhirnya kita seringkali lupa kepada nilai yang telah kita pegang, untuk dapat "berdamai". Tidak bisa dipungkiri juga, masih ada mereka yang dengan sepenuh nyawa mempertahankan nilai-nilai yang dipegang, dan dengan keras menolak nilai-nilai lainnya. 

Mereka yang berada dalam lingkungan kefanatikan terhadap suatu nilai kemudian dianggap sebagai orang-orang aneh, penghambat globalisasi, udik, dan ketinggalan zaman. Diantara mereka yang fanatik, dan mereka yang global, tetap akan timbul konflik. Orang-orang aneh cenderung akan mendapatkan ejekan -atau setidaknya itu yang mereka rasakan- meskipun hanya lewat pandangan mata. Begitu juga sebaliknya. Saat ini dapat dilihat bagimana gelombang kefanatikan itu semakin (di)pudar(kan) oleh globalisasi. Sepertinya mereka yang memegang nilai global itu merasa memiliki nilai yang lebih benar dan berusaha merubah tatanan nilai komunitas fanatik.

Sebagai masyarakat Indonesia saat ini, mungkin cukup sadar kalau sudah tidak ada nilai-nilai konservatif yang sanggup untuk dipertahankan, kecuali mungkin mereka yang hidup di pedalaman yang bahkan tidak mengenali Dian Sastro. Namun nilai budaya majemuk kita pada dasarnya telah memberi banyak pengaruh dalam tatanan nilai di masyarakat. Bahkan mungkin saat ini Bangsa Indonesia sudah tidak memiliki identitas nilai yang jelas dan tegas. Sudah terlalu banyak pengaruh dari luar. Nilai-nilai universal keBhinekaan yang dulu kita pegang sekarang telah menjadi impian utopis. Sangat dirasakan bagaimana susahnya masyarakat kita saat ini menerima perbedaan. Sepertinya masing-masing diantara kita merasa telah memegang nilai yang paling benar. Perasaan paling benar itu lantas menjadikan nilai'kebenaran' itu menjadi bias. Ketika timbul pertanyaan apa itu kebenaran??..mana hal yang baik dilakukan???....hampir bisa dipastikan jawabannya akan berbeda-beda dan memiliki pamater yang tidak sama.
Pemakluman perbedaan dengan ego merasa paling benar tanpa ditunjang pegangan nilai yang jelas, kemudian melahirkan budaya 'relatif'. Segala hal kemudian dianggap relatif. Benar itu relatif, baik itu relatif, bahkan sudah ada yang berani menentukan kadar dosa itu relatif. Dosa, sebagai hal yang dulu dianggap sebagai keseraman, nampaknya pun telah mendapat tempat di sudut keacuhan. Ke'relatif'an itu membawa kita manusia kepada area nilai yang juga relatif. Sehingga terkadang nilai-nilai baru yang ada bisa seenaknya kita terima dan kita buang. Bahkan setelah dibuang pun bisa dipungut kembali. Padahal sebuah peradaban manusia maju salah satunya karena penilaian manusia akan sebuah nilai itu sangatlah tinggi. Sebuah nilai yang dijadikan pegangan teguh seorang manusia menjadikannya seorang manusia bijak, memiliki kebahagiaan yang mutlak, dan akal yang sehat. Karena dengan berpegangan pada nilai tersebut, tujuan hidup seorang manusia akan semakin jelas, ukuran sebuah kebahagiaan juga sangat tegas, dan harapan bukan hanya sekedar khayalan.

Tidak heran jika saat ini masyarakat semakin mundur. Memang bukan dalam hal teknologi -meskipun sampai saat ini belum ada ilmuwan yang menerti cara membangun piramid-, tapi dalam hal kebijaksanaan, kedewasaan, tujuan hidup, dan batasan-batasan kehidupan. Karena kita selalu hidup dalam dunia yang abu-abu. Kita takut untuk berada pada yang hitam, bahkan yang putih. Kita selalu bertahan pada sudut yang relatif, yang kita benarkan sebagai area keseimbangan antara hitam dan putih. Wajar jika kita susah untuk mengambil keputusan, wajar jika kita sulit untuk bahagia, wajar jika semakin banyak orang stres, karena mereka berada pada titik keseimbangan dan selalu menoleh kanan dan kiri, tidak fokus pada jalan yang dikiri atau dikanan.

Wednesday, April 27, 2011

Dibutuhkan: Peradilan yang Solutif

Peradilan merupakan salah satu lembaga yang bertanggungjawab memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Bentuk layanan yang diberikan termasuk dalam kategori yang memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan target utama dari bentuk pelayanan itu adalah hal yang bersufat sangat abstrak, yaitu keadilan. Keadilan itu sendiri pun hingga kini pendefinisiannya masih berada dalam jalan perdebatan yang panjang. Tak bisa jika keadilan itu hanya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berimbang, tidak berat sebelah, dan tidak memihak. Hal-hal tersebut hanya menjadi segelintir faktor dalam memenuhi keadilan. Tidak semua orang dapat mengukur dan melihat dari sudut pandang yang sama akan hal tersebut. Jadilah sebuah tantangan yang sangat besar bagi Peradilan yang bertanggungjawab untuk mewujudkan itu, terlebih di masyarakat yang majemuk dengan pegangan moralitas serta nilai yang sudah berbeda-beda dari awalnya.
Hal pertama yang menjadi tantangan adalah keberagaman suku bangsa, budaya, dan agama masyarakat kita. Di mana ketiga hal tersebut menelurkan nilai-nilai dan moralitas yang kemudian dipegang sebagai prinsip dari setiap individu yang berada dalam komunitasnya. Hukum positif negara ini terlahir di tengah-tengah situasi tersebut, pada saat masyarakat telah memiliki nilai-nilai tersendiri yang berbeda-beda antar komunitas, yang kemudian dipaksakan untuk menaruh sebuah norma yang dapat dipatuhi oleh semuanya. Terlepas dari bagaimana sejarah itu dibangun, namun kenyataan saat ini, norma yang tertuang dalam hukum positif itu masih belum mampu menaungi beberapa kebiasaan, kultur, dan kepercayaan kelompok masyarakat tertentu. Keberadaan adat istiadat, kebiasaan, dan kultur, khususnya masyarakat adat negara ini, tentunya tidak akan dan tidak mau untuk dihilangkan. Keberadaan mereka telah menjadi kekayaan utama bangsa ini. Sangatlah sulit ketika ada hukum positif yang perbedaannya dibenturkan dengan nilai-nilai lama yang berlaku. Benturan itu pasti akan melahirkan perlawanan dari masyarakat, padahal hukum itu dibuat untuk memberikan ketertiban dan stabilitas dalam masyarakat. Sebagai kesimpulan adalah bahwa peradilan harus dapat ditempatkan pada posisi yang bersifat universal ditengah-tengah kemajemukan yang ada.
Hal kedua yang menjadi tantangan adalah bahwa selama ini Hukum positif yang telah diterapkan seringkali dianggap belum mampu membawa keadilan sebagai tujuan utama. Tidak bisa dipungkiri bahwa kinerja para aparat yang bertugas di peradilan, selalu dikejar target yang sifatnya angka bulat. Adanya konsekuensi bagi mereka yang tidak dapat mencapai target itu, menjadikan para ponggawa hukum kita terbiaskan fokusnya ke arah target, yang membawa kepentingan karir dan jabatan bagi mereka. Diantara mereka pun pada akhirnya tidak sedikit yang menjadi \"pemain\" dalam rangka memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang terlibat dalam peradilan, entah itu antara kepentingan negara dengan tersangka/terdakwa dalam peradilan pidana, maupun kepentingan penggugat dan tergugat dalam peradilan perdata. Tak sedikit juga para \"pemain\" itu tercipta oleh salah satu pihak yang ingin mencari keadilan menurut persepsinya sendiri. Jauh di kemudian hari terciptalah suatu masyarakat yang \"relatif\" seperti sekarang. Di mana-mana dianggap tidak ada kesamaan persepsi, tidak ada kesepakatan terhadap pemahaman, tidak ada obyektif, semua serba relatif. Hukum sudah tidak dapat diterapkan secara penuh sebagai alat \"keharusan\", tapi menjadi alat untuk membawa kepentingan tertentu yang bisa menjadi \"pemain\" yang lebih kuat. Bukan stabilitas, bukan ketertiban, bukan keadilan, tapi lebih berbicara siapa pemenang, siapa yang kalah.
Tantangan yang ketiga khususnya terkait peradilan pidana, menyangkut permasalahan dalam pemidanaan. Selama ini masyarakat sudah cukup memahami bahwa mereka yang telah menjadi terdakwa dalam perkara pidana, jika pada akhirnya diputus bersalah melakukan tindak pidana akan berakhir dipidana, atau lebih dikenal dengan dipenjara. Pemidanaan itu berangkat dari filosofi yang cukup kuat. Kenapa seseorang itu dipidana berawal dari tujuan untuk memberikan pembalasan, penjeraan, dan rasa takut bagi mereka yang belum melakukan tindak pidana yang bersangkutan. Namun seiring perkembangan budaya universal manusia yang mengarah kepada hak asasi, pemidanaan dirubah menjadi pemasyarakatan, dimana mereka yang tadinya dibui untuk diberi hukuman, berubah  tujuannya untuk dibina agar dapat kembali sebagai masyarakat dan diterima masyarakat. Namun yang terjadi adalah, karena efek domino dari masalah yang timbul di penjelasan sebelumnya, proses pembinaan itu pun tidak dapat berjalan dengan baik. Masyarakat yang kesal dengan kelakuan para pelaku tindak pidana, ada stigma, dan aparat yang mengejar target menjadikan pemasyarakatan berubah kembali menjadi sarana pemberi \"hukuman\", \"ganjaran\", dan \"pembalasan\".
Permasalahan yang dijelaskan di atas pada akhirnya menunjukkan pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa peradilan yang ada dan berjalan hingga kini bukanlah untuk memenuhi solusi permasalahan yang datang pada peradilan. Perlawanan dari masyarakat atas eksekusi putusan pengadilan, maraknya residivis, penyiksaan oleh aparat, telah menjadi segelintir masalah yang menunjukkan tidak ada solusi lewat peradilan. Lantas kemudian bagaimana peradilan yang solutif itu, mereka yang telah kalian pilih melalui pemilu itulah yang wajib mempertanggungjawabkannya, dan sebagai pemilih sudah sepantasnya untuk meminta. Tuhan yang telah kita pilih aja bisa kita mohon tiap hari...hahaha...ga nyambung,,,,,,

Saturday, April 16, 2011

Perbedaan

Dapat dikatakan istilah perbedaan sudah disadari keberadaannya dari awal manusia menjajaki kakinya di bumi ini. Meskipun itu tidak dikenal sebagai sebuah kata, namun pemaknaannya tetap berada dalam posisi yang  sama sekalipun dalam pola pikir yang berbeda. Beranjak dari hal yang termudah untuk dimengerti yang sifatnya materil, konkret, dan kasat mata, hingga pada hal yang memiliki keabstrakan yang cenderung berkaitan dengan pemikiran dan perasaan. Semua hal yang memiliki makna "berbeda" dapat dipersepsikan.
Kesadaran akan kesamaan persepsi itu sayangnya kurang begitu disadari. Pemaknaannya sering terbentur oleh cara menyikapinya. Semua orang dapat dianggap tahu akan keberadaan sebuah atau sebanyak perbedaan yang ada, namun dalam hal menyikapi perbedaan cenderung membawa permasalahan. 
Meninjau dari sejarah, seperti halnya komunitas masyarakat yang berada dalam kelompok Yesus dan Muhammad, menyadari adanya manusia pertama yang bernama Adam. Ia diciptakan sebagai sosok yang dipahami berjenis kelamin laki-laki. Kemudian dari secuil bagian tubuhnya diciptakan Hawa (Eve), yang dapat dipahami berjenis kelamin perempuan. Dari penciptaan Hawa (Eve), Adam menyadari adanya perbedaan diantara mereka yang sama-sama menyadari dirinya sebagai manusia. Perbedaan itu terus berlangsung dengan baik hingga terlahir anak-anak Adam, yang seiring pertumbuhan kedewasaannya, Tuhan memberikan perintah dengan menentukan pasangan-pasangan dari anak Adam untuk melakukan perkembangbiakan. Dari pemasangan tersebut, sangat disadari oleh semua anak Adam bahwa Tuhan memasangkan mereka dengan cukup memberikan kelapangan pada perbedaan setiap pasangannya. Mudahnya mereka memahami diantara mereka yang merasa memiliki penampilan fisik yang kurang baik dipasangkan dengan anak Adam yang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik.
Diantara anak Adam tersebut, ada yang tidak menerimanya. Ia yang terlahir dengan keunggulan penampilan fisik, merasa harus dipasangkan dengan yang memiliki penampilan fisik yang baik pula. Dapat dilihat bagaimana salah satu anak Adam itu menyikapi perbedaan, ia tidak mau menerima pembedaan yang telah coba ditentukan. Hingga sampailah pada tindakan penghilangan nyawa yang pertama dimuka bumi ini.
Kejadian nyata adanya penyikapan perbedaan yang berujung pada perpecahan ada pada sejarah terbentuknya negara Pakistan. Sebagaimana dapat dilihat pada literatur sejarah, Pakistan memisahkan diri dari kesatuan Hindustan, dikarenakan masalah perbedaan keyakinan. Kehidupan Hindu yang kental pada mayoritas masyarakat Hindustan, tidak bisa dipersatukan dengan keIslaman masayarakat lainnya yang juga hidup di wilayah tersebut. Sapi yang disembelih masyarakat Islam dianggap menghina masyarakat Hindu yang mendewakan Sapi. Perbedaan ini yang kemudian memutuskan hubungan masyarakat Islam yang membentuk negara Pakistan. 
Seorang Galileo yang di Hukum oleh Gereja karena memberikan pernyataan yang berbeda dari pernyataan gereja tentang tata surya, Nelson Mandela yang dipenjara karena memperjuangkan hak msayarakat kulit hitam di Afrika Selatan, KuKlux Klan yang membantai setiap bangsa selain kaukasoid, dan Tragedi Lombok, mencirikan adanya sebuah penyikapan atas perbedaan yang membawa dampak yang kurang baik. 
Setiap langkah sejarah ini sesungguhnya sudah cukup membuktikan bahwa akan selalu ada usaha untuk merubah cara penyikapan terhadap perbedaan yang berdampak buruk tersebut. Cerita kemenangan dari perjuangan-perjuangan itu setidaknya mampu untuk dapat dipelajari. Pernyataan Galileo telah dibuktikan kebenarannya bertahun-tahun setelah kematiannya. Masyarakat kulit hitam yang telah diangkat statusnya pun telah nyata mampu menjadi penghibur dunia ini melalui musiknya. Bahkan di India pun akan tetap ada masyarakat Islam.
Perbedaan akan selalu disadari keberadaannya disetiap mata ini memandang. Bahkan yang dinamakan kembar mutlak pun tak ada. Sidik jaripun tak ada yang sama. Jika perbedaan sekecil itu bisa disikapi dengan lebih baik, lalu kenapa tidak untuk terus menambah kedewasaan  kebijaksanaan kita dalam memberikan sikap yang lebih dewasa terhadap perbedaan yang lebih besar??. Mungkin saja memang diantara kita ada yang tidak belajar dari perbedaan yang terkecil, namun langsung ingin beranjak pada diskusi perbedaan terbesar dan bersifat abstrak. Tentu saja mereka yang seperti itu bukanlah orang yang bodoh, mereka hanya menjadi orang yang lupa. Akuilah bahwa kita adalah makhluk pelupa. Untuk itu seorang Muhammad, Yesus, Buddha, Konfusius, dan para tokoh besar Pejuang Dunia ini datang sebagai pembawa per'ingat'an, bukan penghukum, bukan pendoktrin. Usaha mereka berhasil bukan dengan menghakimi, mereka berhasil karena berhasil mengingatkan banyak orang. Jika kita meyakini ajaran mereka, tentunya yang bijak dilakukan adalah mengingatkan mereka yang lupa, termasuk kita.
Perbedaan bukanlah musuh, perbedaan bukanlah kendala, perbedaan bukanlah hambatan. Percuma berusaha untuk menghilangkannya, karena perbedaan itu "ADA", dan perbedaan itu adalah "KITA"

Thursday, April 14, 2011

In God(s) Name

Kupercaya.........
Dalam namaMu kehidupan tercipta...
Dalam namaMu harapan terbentang...
Dalam namaMu keabadian sesungguhnya berada...
Mereka sebut namaMu.....
untuk mengawali hari......
dalam setiap langkah....
dalam akhir setiap hari....
menuju kehidupan selanjutnya.....

Tapi Kenapa.........
ada mereka yang dalam namaMu merusak kehidupan....
ada mereka yang mendasari kebencian atas namaMu....
ada mereka yang hidup tanpaMu.....
ada mereka yang membenciMu.....

Juga Dalam namaMu...
Richard the Lion Heart berseteru dengan Salahudin.....
Alqaeda hancurkan amerika....
Pakistan berpisah dari India......
Tragedi maluku pecah....
mereka menusuk, membakar, rasis!!...

Dalam namaMu.....
Dalam namaMu.....