Bambu, hanyalah seorang biasa yang hidup dalam lingkungan yang juga sangat biasa. Ia tinggal disebuah kamar kos yang hanya seluas 2x3 meter. Di lingkungannya Ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, ramah, dan penuh kesantunan. Setiap tutur katanya selalu dapat dipercaya. Tak pernah ada satu kebohongan pun yang pernah terdengar terucap dari mulutnya. Sebagai contoh, misalnya dalam hal membayar makanan di warteg. Setiap warteg prasmanan yang didatanginya tahu persis bahwa Ia selalu membayar apa yang telah dimakannya. Tidak seperti kebanyakan orang disitu yang sering menyembunyikan makanan di bawah segunung nasi agar nanti ketika ingin membayar makanan yang disembunyikan itu tidak masuk hitungan karena tidak terpantau oleh pemilik warung. Bahkan dalam suatu waktu, pemilik warteg yang sudah sangat rabun itu salah memberikan uang kembalian sepuluh ribu dengan seratus ribu. Tidak menunggu untuk berpikir, sesaat setelah menyadari kesalahan sang Ibu warteg tersebut, Bambu dengan sigapnya langsung mengembalikan uang seratus ribu itu dan meminta untuk menukarnya, dan tentunya dengan membantu sang pemilik warteg renta itu untuk mengambil pecahan uang yang tepat. Sebagai seorang pendatang yang juga sifatnya sementara, keramahan dan kesantunan perilakunya sangat membantunya untuk bisa beradaptasi. Hampir semua penghuni di lingkungan itu pernah merasakan manis senyumnya, yang membuat banyak orang malu untuk tidak membalas senyumannya. Jabatan tangan selalu menghiasi setiap perjumpaan dan perpisahan dengannya. Ia meyakini bahwa dibalik jabatan tangan itu terdapat dosa-dosa yang beruntuhan.
Selain kebaikannya, Bambu juga dikenal sebagai orang alim. Keteguhannya dalam beriman, Ia tunjukkan dengan begitu rajinnya Ia melakukan sholat lima waktu. Surau yang berjarak 55 langkah dari kamar kosnya, selalu disambanginya ketika waktu sholat telah tiba. Setiap jemaah yang hadir pun ikut menjadi saksi dari kekhusukan haturan doa Bambu kepada Tuhannya. Tak jarang Bambu untuk diminta menjadi Imam Sholat, meskipun Bambu sangat menyadari kelemahan dirinya tentang hapalan surat AlQuran yang tidak sebaik mayoritas jemaah di surau yang tidak terlalu nyaman jika diisi hingga 40 jemaah sholat itu. Keyakinan yang coba Ia pegang teguh itu, dimantabkannya dengan asupan ilmu yang banyak diperolehnya dari ulama dan jemaah di surau itu. Ia tak pernah sungkan untuk mempertanyakan mengani banyak hal yang terkait imannya. Mereka yang kebagian menjadi narasumber pun akan dengan senang hati memberikan jawaban sesuai kemampuannya kepada Ia yang memang pancaran wajahnya mensiratkan kemantaban untuk menambah ilmu yang menyokong keyakinannya. Salah seorang narasumber favorit Bambu ialah Pak Amir, seorang pensiunan PNS golongan 2B, yang mempesona Bambu dengan kebijaksanaannya dalam menyampaikan ilmu. Tidak ada yang dilebih-lebihkan dan tidak ada yang dikurangi, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang berlebihan maupun negatif.
Sebagai makhluk sosial, kehidupan sehari-harinya Ia jalani dengan menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang multinasional, sebagai seorang Legal Officer. Dilihat dari gaji pokok yang diterimanya setiap bulan, cukup untuk menunjukkan kemapanan Pria yang bulan depan menjajaki usianya yang ke 30 dalam statusnya yang masih single. Kantor tempatnya mencari nafkah hanya berjarak sekitar 105 meter dari tempat kosnya., yang gedungnya nampak sangat jelas dari jendela setiap kamar di rumah kos-kosannya itu Setiap hari Ia cukup berjalan kaki untuk sampai di sana. Sebagai seorang muslim yang taat, Ia selalu menganggap pekerjaannya itu sebagai ibadah kepada Tuhannya. Tak pernah Ia lupa untuk menyebut nama Tuhannya yang dipujinya sebagai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dalam memulai langkah menuju kantor, yang Ia percaya dan harapkan bahwa dalam setiap langkahnya dari berangkat hingga pulang nanti ada nilai ibadah dan selalu terlindung dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Tuhannya.
Sebagai Legal Officer Ia terbiasa untuk bekerja dalam tim. Pekerjaannya menuntut untuk senantiasa dapat berpikir bijak. Tak ada perdebatan yang senang Ia jalani, dan diskusi lah yang selalu menjadi arah interaksinya ketika bekerja. Keramahan dan kesopanannya yang berhasil diterapkan dilingkungan tempat Ia tinggal sekarang, tak demikian di tempat kerjanya. Ketika, dan hampir selalu, pekerjaan yang datang begitu banyak, sulit sekali untuk bisa mempraktekkan sebuah kesantunan. Bukannya tidak bisa, hanya saja tidak memberikan pengaruh sama sekali kepada lawan bicaranya. Tapi Bambu tetaplah Bambu, muka kusut, omongan yang keras disertai kata-kata yang kurang baik, selalu dibalasnya dengan senyum. Niat bekerja sebagai ibadah serta doa perlindungan oleh Tuhannya, nampaknya mampu untuk mepersenjatai Bambu menghadapi lingkungan kerjanya yang hectic. Satu hal kebijaksanaan yang diingatkan oleh Pak Amir, bahwa dalam situasi kerja yang seperti itu bukan berarti keberadaan kesantunan dan kealiman seorang Bambu menjadi hal yang tidak diinginkan. Hanya saja tidak ada akar sekuat Bambu untuk menopang mereka dari hantaman angin pembawa ketegangan. Meskipun atasannya tak pernah bisa berbicara lembut ketika di kantor, atau bahkan jarang sekali raut muka kebahagiaan yang terpancar dari para rekan kerjanya, namun Bambu tetap mendapat posisi yang baik diantara mereka. Bahkan penghargaan terhadap Bambu oleh perusahaan itu, yang tentu karena hasil kinerjanya, terlihat dari besaran gaji yang Ia terima sedikit lebih besar dari rekan-rekan dalam posisi yang sama, sekalipun itu lebih senior. Dengan mengingat hal-hal itu, dan tentunya juga mengingat Tuhannya, Bambu dapat terus bertahan. Bahwa selalu ada hal yang dapat disyukuri dari setiap kejadian, seburuk apapun situasi yang dihadapi, selalu ada sisi positif yang tampak, dan itulah api semangat yang masih tersisa.
Sebagai penghuni kota Metropolitan, kehidupan glamor dan dunia gemerlap kota besar, tidak menjadi hal yang asing di mata seorang Bambu. Setiap akhir minggu, teman-temannya selalu mengajak untuk menghibur diri. Wajar dianggapnya, bagi mereka yang lima hari penuh menjalani kepenatan pekerjaan dan hiruk pikuk kestresan kota besar, untuk mencari waktu melepaskan ketegangan otot-otot di otak mereka. Tapi tak semua hal yang dianggap hiburan oleh teman-temannya, mendapat persepsi yang sama di mata Bambu. Bambu selalu beranggapan bahwa setiap tindak-tanduk perilaku sehari-hari seorang manusia haruslah mengarah pada nilai ibadah, yang dijalankan dengan takwa, menghindari setiap hal yang dilarang oleh Tuhan. Mayoritas hiburan yang ditawarkan kepadanya, tidak dianggapnya sebagai nilai ibadah, karena menurutnya terlalu banyak resiko untuk kemaksiatan, meskipun Ia yakini tidak akan terpengaruh sekalipun masuk ke dalamnya, namun agar tidak tersentuh sedikitpun godaan, Ia berpikir lebih baik menghindarinya. Ia tidak segan sedikit pun untuk menolak ajakan teman-temannya jika itu tidak sesuai, tentunya penolakan itu dilakukan ala seorang Bambu, tetap dengan tutur kata yang santun dan lontaran senyum manis. Tak jarang penolakannya itu disambut dengan wajah kusut teman-temannya. Semakin kusut wajah lawan bicaranya, semakin lebar senyum yang dilemparnya. Tapi tidak jarang pula teman-temannya mengalah kepada Bambu, dan pencarian hiburan mereka berakhir tempat-tempat makan atau hanya sekedar ngopi-ngopi. Tak sedikit dari teman-temannya kesal dengan sifat Bambu, namun Bambu tetaplah Bambu, Ia tidak begitu memikirkannya. Ia tidak pernah takut kehilangan teman, jika dengan berteman justru membawanya menjauhi Tuhannya. Tuhan yang diyakininya selalu Ia posisikan dalam puncak kemenangan di hatinya, nomor dua adalah orang tuanya.
Suatu hari tercipta keadaan yang sama sekali tidak Ia duga. Bukanlah menjadi situasi yang biasa di lingkungannya. Malam sehabis sholat Isya di hari minggu, tiba-tiba saja surau tempat Ia sholat berjamaah diserang oleh sekelompok orang dengan pakaian muslim serba putih, peci, dan rompi hijau yang bertuliskan sebuah nama kelompok tertentu, serta tak ada tangan kanan yang kosong diantara mereka. Balok, golok, parang, hingga batu bata, melekat erat ditangan masing-masing orang dalam kelompok penyerang tersebut. Sambil berteriak menyebut nama Tuhan, yang sangat mengagetkan Bambu, salah seorang dari kelompok itu, dengan sorot mata yang tajam, kerutan pada dahi dan hidung, alis yang naik tajam, bibir yang terbuka lebar disertai bau mulut yang tidak sedap, menghantamkan sepotong balok kayu ke arah kepala Bambu. Seketika Bambu terbaring lemas di atas sajadahnya. Sambil mengucap-ucap nama Tuhannya, tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung betisnya menerima hantaman dari berbagai macam benda keras. Kesakitan yang amat sangat tak bisa dihindari. Bahkan Ia masih sempat berpikir, dari sekian banyak pukulan yang diterimanya, Ia masih bisa tetap sadar. Ia masih bisa menengokkan kepalanya sedikti ke atas, sekilas melihat Pak Amir yang terkapar kaku tapi masih saja dihantam dengan balok dan batu. Tubuh rentanya tak sanggup menerima kekerasan yang begitu kejam seperti itu, darah terlihat mengalir dari hidung, mulut, tangan, dan kakinya. Sampai pada suatu saat, orang-orang itu berhenti dan lari tanpa arah, mereka lari ke segala arah, tapi seperti bukan karena sedang diburu oleh sesuatu, lebih pada untuk menghilangkan jejak.
Bambu terbangun dengan lemas, tangan dan kakinya gemetar kuat menyangga tubuh yang dia usahakan untuk bangit. Dengan merangkan Ia hampiri tubuh Pak Amir, Ia raba hidungnya, lehernya, dan pergelangan tangannya, dan Ia bersyukur Pak Amir masih hidup. Beberapa orang lantas masuk dengan berlari. Mereka adalah warga sekitar yang kemudian memberikan pertolongan kepada para jemaah sholat yang terkapar. Tak ada satupun jemaah sholat Isya kala itu yang sempat melarikan diri. Sekitar 30 jemaah saat itu, semuanya terkapar bahkan hingga di luar surau. Salah seorang warga itu mengangkat Bambu dan mendudukannya di sudut surau. Ia berikan Bambu segelas air putih dingin, sambil mengelus-elus punggung Bambu tanda menenangkan. Sambil meminum air pemberian itu, Bambu diceritakan tentang sebab musabab penyerangan yang terjadi, sambil sedikit terkaget Bambu mengerutkan dahinya. Betapa kagetnya Ia, kalau ternyata penyerangan itu dilakukan karena jemaah sholat di surau itu dituduh sebagai pemeluk Islam yang sesat. Pria yang sedang duduk tepat dihadapan Bambu, yang kemudian mengerutkan dahi tanda bertanya-tanya, melihat senyuman cerah yang terpancar di wajah Bambu. Pria itu bertanya-tanya tentang wajah Bambu yang sama sekali tidak menunjukkan kebencian, dendam, ataupun amarah karena telah dituduh sebagai aliran sesat. Untuk melepas rasa penasarannya, pria itu pun mempertanyakan perihal senyum seorang Bambu. Tepat setelah bunyi tegukan terakhir air dalam gelas, Bambu mengatakan bahwa Rasulullah dulu ketika berdakwah juga mengalami hal yang sama, Beliau dituduh sebagai penyihir, sebagai pembawa aliran sesat yang membahayakan umat.
"Penyerang tadi menyebut nama Tuhan yang sama dengan ku, begitupula kaum Quraisy jahiliyah yang dianggap tidak beriman kala itu jka ditanya siapa Tuhanmu, mereka akan menjawab dengan nama Tuhan yang sama dengan Rasulku Muhammad. Kau bisa lihat, Rasulku tidak pernah dendam kepada mereka yang menyiksanya dan menjauhkannya dari keluarganya. Rasulullah tetap sanggup melontar senyum kepada mereka, karena Rasul tahu mengenai kebenaran Allah. Beliau tahu sebenar-benarnya ajaran Allah. Rasulullah diturunkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, bukan sebagai prajurit pembawa pedang yang siap menghunuskan pedangnya ke setiap jantung mereka yang tak beriman. Jadi yang mereka lakukan tadi tidak mencerminkan ajaran Allah yang telah disampaikan Jibril kepada Rasulku. Jika Rasulku selalu menjadi orang yang sabar, aku sebagai pengikutnya tentu akan berusaha keras seperti itu." Dilanjutkan kembali dengan senyuman lebar dari bibirnya, yang dibalas juga oleh pria tadi.
Sudah sebulan lewat, dari kejadian penyerangan terhadap surau Bambu, tak ada tanda-tanda akan kedatangan mereka kembali. Warga sudah dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan tenang. Demikian juga dengan Bambu. Sampai pada suatu malam selesai sholat Isya, tak sengaja Ia melihat seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengan arah tujuan Bambu. Wanita itu mengenakan TankTop berwarna merah dengan tonjolan yang menggunung bulat penuh di bagian dadanya, sehingga mengangkat bagian depan Tanktopnya dan memperlihatkan sedikit kulit mulus dibagian perutnya. Celana hotpants berbahan jeans berwarna hitam yang panjangya hanya sepersembilan pahanya, memberikan fantasi bagi para sexfreak untuk menghayalkan bagian tubuh dibalik celana, yang semakin memperlihatkan kaki berkulit mulus dan jenjang wanita itu. Rambutnya lurus agak bergelombang dengan poni yang diarahkan menyamping ke kanan, bagian belakang rambutnya yang nampak kunciran yang dibuat seperti asal-asalan dengan kuncir rambut dan jepit rambut. Dan yang sangat menarik perhatian adalah tato yang berbentuk tulisan, yang membuat setiap orang penasaran untuk membacanya. Tato itu berada pada sekitar 5cm dan 45 derajat tepat dari arah belahan payudaranya, yang terdapat tahi lalat diujung sebelah kanan belahan payudaranya itu. Wajahnya oval dengan sudut yang menajam ke arah dagu, dengan ekspresi yang agak jutek dan dingin, namun terpancar aura intelektualitas dari otaknya.
Sesaat Bambu memalingkan wajahnya dari wanita itu seraya berkedip dan berucap "astaghfirullah", Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Warteg langganannya. Sepanjang jalan, gambaran wanita yang barusan dipandanginya tak bisa hilang. Sampai-sampai Ia gelengkan kepalanya berkali-kali tanda ingin menghilangkan memori itu. Bahkan hingga selesai makan, gambaran itu terus menghantuinya. Sesampainya Ia kembali ke kamar kosnya, seperti ada rasa tidak tahan untuk segera meneceritakan tentang wanita itu kepada teman-teman satu kosnya. Ia lantas melompat ke atas kasur dan duduk bersila. Ia tengadahkan tangannya sejajar dengan dadanya dan berdoa pada Tuhan agar selalu diberi perlindungan, diberi kekuatan sabar, dan tahan akan godaan. Berulang-ulang kalimat yang sama dia haturkan dalam doanya, dan masih saja gambaran wanita itu menghantuinya. Karena masih tidak bisa tenang, dengan segera Ia bergegas mendatangi kediaman Pak Amir, sang guru keyakinannya. Sesampainya di sana, Ia langsung disambut oleh Pak Amir, dan tanpa basa basi, tanpa menunggu dipersilakan duduk, serta membiarkan diri berdiri di depan pintu, Ia ceritakan perihal masalahnya kepada Pak Amir. Tanpa ada satu katapun yang terucap dari mulut Pak Amir, beliau seketika tertawa terbahak-bahak. Bambu menjadi semakin bingung, matanya membelalak, bibirnya tak bisa ditutup rapat, dan dahinya berkerut.
"Hei, bambu.....kau tahu maksudnya kan??"...Pak Amir berkata sembari mengeluarkan tawa kecil yang tersisa. "....Bambu semakin mengerutkan dahinya tanda semakin penasaran. "Usiamu sudah 30 saat ini, tapi kau belum punya calon pasangan hidupmu. Kita manusia itu diciptakan berpasangan, kau sebagai laki-laki punya pasangan seorang perempuan. Tandanya saat ini kau sudah butuh wanita..."...Pak Amir lanjutkan tawa riangnya. Bambu hanya bisa tersenyum nyinyir.
Obrolan malam itu berlanjut di teras rumah Pak Amir yang hanya sebesar tipe 21 dengan ditemani secangkir kopi hangat. Situasi yang hangat itu mendadak berubah, wanita yang tadi diceritakan oleh Bambu kepada Pak Amir seketika itu mendatangi Pak Amir dan mencium tangannya. Pandangan mata dan ekspresi wajah Bambu tak bisa dibohongi, dan membukan semuanya kepada Pak Amir, sesaat Pak Amir menyadari kalau wanita yang tadi diceritakan oleh Bambu kepadanya adalah keponakannya yang baru menyelesaikan studi S2 nya di Amerika dan baru saja diterima untuk bekerja di kantor yang berjarak 2 lantai di bawah kantor Bambu. Tak pelak, Pak Amir segera memperkenalkan keponakan dari kakak kandung istrinya itu kepada Bambu, namanya Jasmine. Tak bisa Bambu rahasiakan kebahagiaan yang terpancar dari merah pipi dan senyum lebarnya. Balasan senyum dari Jasmine menyertai langkahnya menuju ke dalam rumah. Bambu pun melanjutkan obrolan dengan Pak Amir. Bambu banyak bertanya tentang Jasmine kepada Pak Amir, sekalipun Ia masih berusaha menyembunyikan siapa sebenarnya wanita yang diceritakan tadi kepada Pak Amir. Meskipun tahu, namun Pak Amir tetap bertingkah kalau wanita yang diceritakan Bambu tadi bukanlah Jasmine, keponakannya. Obrolan itu sampai pada pertanyaan bambu tentang cara berpakaian Jasmine dan tato yang melekat ditubuhnya. Jawaban Pak Amir agak sedikit mengejutkan untuk Bambu. Pak Amir ternyata seorang mualaf, yang bersama-sama istrinya baru masuk Islam 10 tahun lalu. Jadi Jasmine memiliki perbedaan keyakinan dengan Pak Amir dan istri saat ini. Keyakinan yang dipeluk oleh Jasmine tidak melarang untuk membuka aurat dan bertato. Pak Amir pun menceritakan tentang keluarga besarnya dan keluarga besar istrinya yang penuh perbedaan. Setidaknya terdapat 5 keyakinan yang berbeda dalam keluarga mereka. Namun mereka dapat hidup rukun dan berdampingan tanpa pernah sekalipun timbul konflik karena sebab perbedaan keyakinan. Memang terkadang nilai-nilai Islam coba diterapkan oleh Pak Amir di keluarganya, tapi yang sifatnya lebih umum, seperti cara berpakaian, cara makan, dan hormat kepada orang tua. Namun penerapan nilai-nilai keislaman tersebut tidak kemudian mendapat tentangan, mereka tetap menghargai dan menerima keadaan dimana terdapat perbedaan. Bahkan ketiak Pak Amir dan istri pindah agama pun mendapat dukungan dari semuanya.
Kisah Pak Amir mengingatkan Bambu pada keuarga besarnya. Keluarga besarnya juga memiliki kemajemukan seperti halnya keluarga Pak Amir. Namun sayangnya konflik yang disebabkan darinya sangat besar. Karena masing-masing mereka saling memaksakan ajaran agamanya, tapi tidak dengan Bambu, Ayah dan Ibunya, yang tidak mau memaksakan siapapun dan juga tidak mempan dipaksa. Itulah kenapa orang tua Bambu memberikan nama itu kepadanya, Bambu Teguh. Orang tuanya memiliki harapan anaknya akan menjadi manusia yang teguh pendirian, tetap kuat, dan berpegang pada akar yang kuat, namun tetap bisa bergerak bebas tanpa harus melepaskan diri dari apa yang telah menjadi akarnya. Seperti Pohon Bambu yang tertanam dengan akar yang kokoh namun ranting-rantingnya lentur, yang bisa bergerak bebas mengikuti arah angin, tanpa harus melepaskan diri dari tanah tempatnya berdiam diri. Dan itulah Bambu, keyakinan dan prinsipnya Ia tanam kuat-kuat mengakar ke dalam tanah di mana Ia yakin Tuhan telah menempatkannya, namun Ia dapat hidup dimana saja dengan dari segala arah angin cobaan yang menerpanya. Ia selalu mampu untuk fleksibel, tapi Ia tak pernah melepaskan diri dari tanah keimanannya.
Menjadi manusia tidak harus mengikuti zaman dan tren untuk tidak dianggap aneh, dan tidak perlu takut untuk memiliki prinsip yang mengakar kuat karena fleksibilitas itu bisa dilakukan tanpa harus melepskan sedikitpun prinsip dan keyakinan dimana kita berpegangan.