Monday, May 2, 2011

Berkaca

    Pernah suatu hari berada dalam percakapan santai di suatu tempat yang meyantaikan. Bersama mereka yang dikenal sebagai teman. Obrolan kala itu selalu mengundang gelak tawa ria yang ampuh untuk sejenak menjadi senjata penghilang kepenatan pekerjaan. Banyak hal dibicarakan untuk kemudian disahutkan untuk ditertawakan. Sampai pada suatu titik, dimana tawa itu terundang oleh kejelekan tentang seseorang, tentang kekurangan seseorang, atau tentang nasib sial seseorang. Orang yang dibicarakan itu termasuk juga orang-orang dalam komunitas pertemanan yang ada di situ, namun lebih banyak pembicaraan tentang orang-orang yang sedang tidak berada dalam komunitas itu, dan bisa saja hanya mereka yang sedang lewat. Cukup menyenangkan memang ketika bisa menemukan senjata ampuh berpeluru cemoohan. Tapi lama kelamaan, sisi negatif yang menjadi pembicaraan itu berubah menjadi gosip dan penghinaan yang berujung pada ekspresi kebencian. Dari semua kritikan yang terlontar, tak ada satupun yang mengarah kepada kami yang berada di situ. Tak ada tawa lagi yang berkibar, hanya senyuman sinis yang berkobar. Kenapa situasi ini bisa berubah sedemikian drastisnya, kesenangan itu kenapa dibawa pada hal yang seperti ini, dan siapa yang pertama mengarahkannya, kenapa semuanya ikut membonceng???...
    Situasi seperti itu tidak terlalu enak jika dirasakan terlalu lama. Seperti ada ketidakadlian di situ. Jika tadi cemoohan yang menghantarkan pada tawa lebih terasa sebagai angin lalu yang membawa kesenangan yang ternyata cepat berlalu juga, tapi kenapa cemoohan yang kemudian ini menjadi dogma yang melekat untuk kemudian ikut memberikan kebencian pada orang yang dimaksud. Walaupun memang apa yang menjadi pembicaraan itu merupakan kenyataan yang sangat terasa dipancarakan orang-orang terhina itu. Tapi apakah mereka yang berbicara ini telah sesempurna itu??, apakah kesempurnaan mereka melebihi orang yang dibicarakan??...Yang kutahu, kalau ditanya tentang kejelakan mereka yang ada di situ pada saat itu, ku bisa sebutkan satu-satu, begitu juga sebaliknya oleh mereka tentang diriku, dan oleh mereka terhadap mereka masing-masing. Apakah kemudian yang menjadi kekurangan para orang-orang terhina itu memang sudah sulit untuk diterima, padahal di tempat lain mereka itu bisa diterima dengan baik.
    Situasi kemudian kembali mengalami perubahan ketika orang-orang yang dibicarakan adalah pasangan dari masing-masing kita oleh pasangannya masing-masing, kecuali tiga orang termasuk saya. Dari tiga orang yang tidak ikut membicarakan kejelekan dan kelemahan pasangannya, mulai tidak menyukai arah pembicaraan kala itu. Ia kemudian mengatakan tentang bagaimana mereka yang menjelekkan pasangan mereka itu di mata pasangan mereka, sudah sesempurna itukah. Ia juga bertanya mengenai pernahkah mereka itu berpikir bahwa ketika mereka mengutarakan itu dengan kesinisan, dan di tempat lain di bagian kota ini ada pasangan mereka yang juga dengan kesinisan yang melebihi mereka mengungkapkan segala keburukan mereka. Semua terdiam, Ia melanjutkan mengatakan tentang kami yang tidak memiliki kesempurnaan yang pasti memiliki sisi negatif dari sudut pandang orang lain, dan Ia pun mengutarakan satu persatu sisi negatif kami di matanya. Dari mereka ada yang bisa menerima itu, tapi ada juga yang tidak. Ia pun menyadarkan bahwa boleh tidak terima, tapi coba rasakan kalau kejelekannya itu telah dibicarakan dibelakangnya, dan ternyata memang demikian. Ketika salah satu dari kami tidak ada, maka kejelekan kami pasti menjadi salah satu topik pembicaraan, dari yang mengundang tawa hingga kesinisan seperti yang telah terjadi sebelumnya tadi.
    Cukup menjadi pengalaman untuk terus belajar berkaca diri ketika ingin mengutarakan sisi negatif orang lain. Mungkin memang sisi negatif kita berbeda dengan orang yang sering dibicarakan oleh kita, namun tetap bahwa setiap kita memiliki sisi negatif di mata orang lain, dan pastinya itu akan menjadi hal yang tidak kita sukai ketika kita sadari bahwa sisi negatif kita menjadi pembicaraan untuk cemoohan dan kebencian terutama jika terjadi dibelakang kita.

No comments:

Post a Comment